Jangankan Berbuat Salah, Berbuat Baik Saja Belum Tentu Semua Orang Senang

oleh -
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: Situs Resmi Muhammadiyah.

BANDUNGMU.COM – Meskipun telah berbuat sekian banyak dan berbagai rupa, tetapi Muhammadiyah tetap mendapat nyinyiran dari pihak-pihak yang memang tidak suka. Menyinggung itu, Haedar Nashir mengajak warga Muhammadiyah untuk menanggapinya dengan biasa-biasa saja.

Menurutnya, di era media sosial ada pendengung yang menjadi faktor destruktif atau merusak. Tapi akibat ulah mereka jangan sampai membuat Muhammadiyah kendur. Haedar merasa aneh dengan pihak-pihak yang merasa terganggu dan tidak senang dengan kebaikan yang diperbuat oleh Muhammadiyah.

“Itu poin buat kita, jangankan berbuat salah, berbuat baik saja belum tentu semua orang senang. Tapi bagaimana pun kita terus melakukan kebaikan,” kata Haedar, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (06/08/2021).

Usaha kebaikan melalui pemberdayaan menjadi kelebihan yang dimiliki oleh Muhammadiyah dalam usaha pengentasan masalah-masalah sosial keumatan. Ini yang oleh Haedar disebut sebagai transformasi Al Ma’un, karena memberdayakan masyarakat bukan hanya lewat kedermawanan tapi juga transformasi sosial.

“Lewat gerakan-gerakan tadi Muhammadiyah sudah enggak menghitung lagi berapa dana yang dihabiskan,” tambahnya.

Oleh karena itu, ketika ingin membangun khair al ummah, harus ada kesadaran kolektif untuk memberdayakan mereka yang kurang sehat dan yang kurang baik kondisi hidupnya untuk lebih berdaya. Keberdayaan yang diberikan Muhammadiyah bukan karitatif.

Ketua Umum PP Muhammadiyah ini lebih jauh menjelaskan, transformasi sosial yang dilakukan oleh Muhammadiyah bukan hanya memberi ikan, tetapi juga memberi kail, dan memberi ilmu cara membuat kail.

Dalam konsep pemberdayaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tidak boleh hanya sebatas karitatif. Namun sebagai organisasi kontemporer, ”ikan” harus diberikan sebagai kedermawanan, dan secara bersamaan memberikan ”kail dan ilmu membuat kail” untuk keberdayaan berkelanjutan.

“Jadi rumah sakit, kegiatan sosial kesehatan di masyarakat dengan membina orang yang berkekurangan untuk sadar akan dirinya kemudian menjadi berdaya,” ucap Haedar.

Pada masa krisis pandemi covid-19, Haedar mengajak kepada semua untuk menggerakkan solidaritas kolektif, sebab bencana ini merupakan ujian kolektif. Serta memperkuat spiritualitas dengan taqarrub ilallah, dan selalu optimis yang menciptakan ketangguhan rohani.

Tapi spiritualisasi yang menyatu dengan ikhtiar, Haedar mewanti-wanti kepada warga Muhammadiyah supaya jangan punya spiritualisasi yang kontra rasional dan kontra ikhtiar. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *