UMBandung
News

Kaum Milenial dan Generasi Z Lebih Cenderung Mendengarkan Pendapat Teman Daripada Orang Tua

×

Kaum Milenial dan Generasi Z Lebih Cenderung Mendengarkan Pendapat Teman Daripada Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Foto: Youtube UMJ TV

BANDUNGMU.COM, Bandung — Psikolog sekaligus Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Rohimi Zamzam, mengungkapkan bahwa generasi milenial dan gen Z lebih cenderung mendengarkan pendapat teman dibandingkan dengan orang tua.

Dilihat dari sisi psikologisnya, kata Rohimi, generasi milenial dan gen Z merasa lebih dekat dengan yang menghargai dirinya sebagai sahabat. Oleh karena itu, generasi milenial dan gen Z lebih nyaman menyampaikan apa pun kepada temannya.

Pada masa remaja, lanjut Rohimi, seseorang berada pada masa pencarian identitas dan kebingungan atas identitas dirinya. Maka dari itu, mereka kerap mengalami mental illness atau kekosongan.

Baca Juga:  Tutut Mang Oded, Pedasnya Nendang Banget! Kalau Ke Bandung, Kulineran Mah Ke Sini Aja Atuh!

Dalam fase kebingungan mencari identitas ini, remaja akan mudah sekali jatuh karena daya resiliensinya belum kuat. Berbeda dengan orang dewasa yang telah melalui berbagai tantangan yang membentuk resiliensi dirinya.

“Kita itu ketika jatuh akan bangun lagi, jatuh dan bangun lagi, ditempa kesulitan ada dua kemudahan, yakin. Namun, yang kebingungan identitas dia tidak ketemu itu,” ungkap Rohimi seperti dikutip dari laman resmi Muhammdiyah pada Kamis (21/03/2024).

Remaja yang memiliki jarak antara dirinya dan orang tuanya menyebabkan dia mencari kedekatan dengan entitas yang lain. Misalnya, melalui jaringan yang mereka bangun di dunia maya atau media sosial.

Baca Juga:  Unisa Bandung dan AIU Malaysia Tandatangani MoU, Perkuat Program Internasional

Jaringan maya yang membuat dia nyaman, alih-alih menumbuhkan resiliensi, justru lebih banyak menjerumuskan remaja ke ranah-ranah yang negatif. Kenyataan itu menjadi pintu masuk bagi remaja ke dunia narkoba dan seterusnya.

Disebabkan ketidaktahuan cara mengelola jati diri remaja, menyebabkan beberapa kasus. Contohnya seperti kasus pendidikan dan kasus sosial misalnya bullying, flexing, dan kecanduan gawai.

Termasuk juga kasus kriminal seperti penipuan online, narkoba, sampai kekerasan seksual. Remaja juga rentan terhadap masalah psikologis. Sebut saja depresi hingga gangguan tidur sebab gaya hidup yang tidak sehat dan kecanduan gawai.

Baca Juga:  Cetak Entrepreneur Muda, UM Bandung & Bank Muamalat Jalin Kerja Sama

Oleh karena itu, penting khususnya bagi warga Muhammadiyah untuk mengetahui pola asuh anak remaja yang sesuai dan adaptif terhadap perkembangan zaman sehingga generasi remaja tidak mengalami mental illness.***

PMB UM Bandung