Islampedia

Unik! Masjid di Solo Ini Tetap Andalkan Jam Istiwa untuk Akurasi Waktu Salat

×

Unik! Masjid di Solo Ini Tetap Andalkan Jam Istiwa untuk Akurasi Waktu Salat

Sebarkan artikel ini
Jam istiwa di Masjid Tegalsari, Laweyan, Solo. (Foto: Ari Purnomo/detikcom)

BANDUNGMU.COM – Kota Solo mempunyai sejumlah masjid kuno yang berusia ratusan tahun. Keberadaan masjid-masjid kuno ini mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri. Seperti halnya Masjid Tegalsari yang masih mengandalkan jam matahari atau jam istiwa untuk menetapkan waktu salat zuhur.

Masjid yang yang didirikan pada 1928 oleh KH Ahmad Shofawi ini masih menggunakan jam istiwa. Jam istiwa merupakan jam yang menggunakan sinar matahari untuk mengetahui kapan azan zuhur dikumandangkan.

 

Jam tersebut dibuat ahli falak KH Asyari. Pembuatannya sangat rumit dan membutuhkan perhitungan yang sangat detail sehingga jam ini benar-benar akurat digunakan sampai saat ini.

Baca Juga:  Inilah Waktu Menyembelih Hewan Kurban

“Sampai sekarang jam istiwa atau bencet ini masih digunakan sebagai penentu waktu salat zuhur,” takmir Masjid Tegalsari, Syakur Adro’ri, Selasa (27/4/2021).

Keberadaan jam istiwa di masjid yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 34, Bumi, Laweyan, ini berbeda dengan jam istiwa di Masjid Agung Solo.

“Kalau yang di sini tidak menggunakan bayangan benda. Melainkan dari posisi mataharinya dan garis khatulistiwa,” tuturnya.

Jam ini berada di dalam ruangan masjid sisi selatan, tepatnya di bagian serambi keputran. Bentuknya pun berbeda jauh dengan jam istiwa yang ada di Masjid Agung.

Baca Juga:  Lima Pengertian Ummatan Wasathan

Jam istiwa ini menggunakan sinar matahari yang masuk dari atap serambi. Atap didesain dengan sebuah lubang kecil yang bisa ditembus oleh sinar matahari. Tepat di bawahnya ada garis melingkar dengan diameter 380 cm.

Di tengah lingkaran itu beberapa garis atau alur yang menunjukkan arah kiblat serta garis khatulistiwa. Garis-garis yang sudah dibuat dengan perhitungan rumit ini menjadi penanda kapan waktu salat zuhur

“Pembuatannya menggunakan alat ukur seperti jangka, tapi bentuknya siku namanya rubuh,” ungkapnya.

Syakur mengatakan ada perbedaan waktu antara jam istiwa dan jam dinding atau jam pada umumnya. Perbedaan ini juga terus berubah-ubah setiap bulannya mengikuti condongnya matahari.

Baca Juga:  Alhamdulillah, Jamaah Tumpah Ruah Ikuti Shalat Idul Adha di UM Bandung

“Untuk penandanya salat zuhur di jam istiwa itu pukul 12.04, tetapi kalau jam WIB itu pukul 11.40 WIB. Jadi, ada perbedaan 25 menit,” ujarnya.

Syakur menambahkan, biasanya sorot matahari baru bisa masuk ke ruangan mulai pukul 10.00 WIB dan hanya berlangsung beberapa jam saja biasanya akan hilang pada pukul 13.30 WIB.

“Itu pun kalau kondisi tidak mendung, kalau mendung tidak bisa. Dan juga bergantung pada condongnya matahari,” ucapnya.

Sumber: Detik.com