UMBandung
Traveliana

Wisata Kuliner di Jalan Lodaya Bandung, dari Mi Sampai Lontong Pecal

×

Wisata Kuliner di Jalan Lodaya Bandung, dari Mi Sampai Lontong Pecal

Sebarkan artikel ini
MIE Akung/ARIF HIDAYAH/PR.

BANDUNGMU.COM – Mendengar ada yang mengatakan Jalan Lodaya, Kota Bandung, apa yang langsung ­terlintas di benak kita?

Kalau lapangan sofbol, ­kemungkinan masa sekolah kita diisi dengan berolah raga di sana atau menonton pertandingan kala itu. Kalau langsung teringat Mie Akung, pasti para pencinta kuliner.

Jalan Lodaya bukan ja­lan raya yang terlalu besar, tetapi ramai dilintasi ken­daraan. Apa­lagi pagi dan sore hari, ruas jalan ini sering kali diwarnai kemacetan.

Jalannya tidak terlalu panjang, kendati juga tidak pendek. Jalan ini membentang dari ujung­nya di area Lapangan Lodaya sampai ke ujung lainnya di persim­pang­an Jalan Pelajar Pejuang 45.

Jalan Lodaya terpotong persimpangan Jalan Palasari. Jalan Palasari merupa­kan jalan yang juga ramai. Sehingga, berdampak pada keramaian Jalan Lodaya dan memunculkan berbagai tempat kuliner baru di sana.

Kalau menyusurinya dari persimpangan Jalan Pelajar Pejuang 45, Mie Akung merupakan tempat kuliner yang pertama terlihat. Lokasinya cukup di­kenal banyak orang, bahkan wisatawan luar kota karena termasuk rumah makan legendaris.

Beberapa tempat yang juga sudah cukup lama hadir antara lain Aneka Ayam yang berada persis di seberang Mie Akung, Batagor H Isan yang dekat ke persimpangan Lodaya-Palasari, serta Kantin 33 dan Lomie Mas Ikin yang berdempetan dan persis ada di sudut jalan persimpangan Lodaya-Palasari.

Karena lingkungan jalan itu terus bertumbuh ramai, ada banyak tempat makan yang baru dibuka beberapa tahun belakang­an seperti Bakso Malang Lang­geng dan Sabana Kapau yang sudah ada dalam lima tahun terakhir. Selain itu, ada lagi banyak restoran, kedai, kafe, serta coffee shop yang juga bermunculan di sana.

Kelima tempat ini memang sudah cukup lama berdiri, minimal dua tahun. Kelimanya sama-sama menawarkan sajian baru untuk menambahkan kenangan pada rasa yang pernah ada di sana.

Di tengah persaingan yang semakin ketat dalam industri kuli­ner, perubahan dan pembaruan memang memberikan kesegaran. Pencinta kuliner biasanya langsung tergoda untuk kembali datang untuk mencoba sensasinya.

Sabana Kapau, sarapan yang lamak bana

Gurih dan berbumbu kental menjadi kesan yang segera saja muncul ketika menyantap sajian menu sarap­an khas Minang seperti lontong sayur, lontong pecal, atau soto padang. Di Jalan Lodaya Nomor 109 Kota Bandung, sajian sarapan khas Minang itu bisa kita nikmati sejak pukul 6.30.

Baca Juga:  5 Kuliner Durian di Bandung Ini Bikin Kamu Merem Melek Saat Memakannya

Ada juga camilan nikmat seperti kue talam yang gurih dan manisnya pas, gogodog kacang hijau yang ukurannya cukup besar, bakwan, lupis yang kuahnya sangat legit, lemang, dan bubur kampiun.

Ketika memilih lontong sayur, kita akan mendapatkan lontong dan sayur gulai yang isinya nangka dan kacang panjang.

Ketika memilih lontong pecal, kita mendapatkan menu yang lebih komplet. Ada lontong dan aneka sayuran yang direbus seperti daun singkong, kacang panjang, dan kol, yang disiram bumbu pecal. Lontong pecal akan disiram lagi dengan sayur gulai.

Saat memesan soto, kita akan mendapatkan bihun, potongan dendeng kering, dan perkedel dalam satu mangkuk. Cita rasa kuahnya pun menyegarkan dengan asin, gurih, dan sedikit asam.

Menurut Hendra, karyawan Sabana Kapau Lodaya, sajian menu sarapan itu sudah ada sejak lama. Namun, pe­nempatan di area depan restoran baru berjalan enam bulan terakhir karena ingin menarik lebih banyak pelanggan untuk sarapan di sana.

Sabana Kapau Lodaya merupakan cabang dari Sabana Kapau di Jalan Moh. Ramdan dan merupakan cabang ketiga setelah Patra Komala dan Kosambi.

”Cabang di Lodaya ini sudah ada sejak lima tahun lalu. Pusatnya di Jalan Moh. Ramdan, sudah ada sejak 1990-an,” ujarnya.

Serenity Corner, perubahan ala kafe

Seiring berjalannya waktu, per­ubahan konsep pada suatu tempat makan itu hal ­biasa. Seperti juga pada Sere­nity Corner yang beralamat di Jalan Lodaya Nomor 34 Kota Bandung.

Sejak berdiri pada 2016, restoran ini bernama Serenity Bakery Coffee and Eatery de­ngan konsep yang lebih ke restoran. Sajian menunya lebih lengkap karena ada menu barat seperti aneka pasta, dan menu khas masakan Indonesia yang beragam.

Sekarang, konsepnya berubah menjadi ala kafe de­ngan perubahan nama menjadi Serenity Corner. Serenity Coffee dan Bakery tetap ada, tetapi ditambah dengan Poyo Smokery dan barbershop modern.

Menurut karyawannya, Zalfa, perubahan konsep itu sejak 2019. Dengan konsep kafe, makanan yang disajikan lebih ringan dan suasana bersantap pun jadi lebih ­santai.

Untuk sajian kopi, menurut dia, yang sedang menjadi favorit adalah es kopi susu kamu dan ice supreme. Perbedaan dari keduanya, yakni es kopi susu kamu menggunakan sirup stroberi sedangkan ice supreme tidak.

Kopi itu cocok ketika disantap bersama olahan bakery yang legit seperti choco lava, donat, puding roti, cup cake, atau roti manis.

Baca Juga:  Inilah 15 Tempat Kuliner di Bandung Yang Tidak Boleh Terlewatkan

Serenity buka mulai pukul 8.00 sehingga menyajikan menu sarapan. Menu itu ternyata bisa dipesan pula di luar jam sarapan.

Apabila ingin menyantap makanan yang agak berat, sajian Poyo ­Smokery bisa menjadi pilihan. Boleh dicoba pula pilihan sambal ijo untuk melengkapi karena itu merupakan saus favorit.

Warunk Twogether, menu baru, konsumen baru

Konsep restoran bisa berubah bukan hanya karena melihat konsumen yang telah menjadi pelanggan, tetapi juga karena ingin menyasar konsumen baru.

Apalagi, apabila konsumen yang disasar memiliki pola dan gaya hidup berbeda, maka perubahan harus meliputi semua aspek termasuk menu yang disajikan.

Hal itu sangat terasa ketika mendatangi lagi Warunk Twogether di Jalan Lodaya Nomor 53, Kota Bandung. Menurut karyawannya, Dian, per­ubahan itu baru diterapkan sejak sebulan ke bela­kang. Sebelumnya, sejak 2017, Warunk Twogether menyasar target konsumen anak muda.

Oleh karena itu, sajian menunya pun menyesuaikan se­lera anak muda seperti mi instan kekinian yang dicampur berbagai isian serta minuman creamy yang cocok dengan selera anak muda.

Sajian menunya lebih lengkap karena diisi oleh beberapa tenant. Ada sajian sa­te jando dari Sate Jando Bar­reto, sop konro dari Konro Dalle, ayam panggang dari R’us, gado-gado dari Gado-Gado Cihapit, dimsum dari Kriting Dimsum, ayam golek, dan lain-lain.

Santapan bercita rasa manis pun tetap ada. Kue Balok Si Cinta menyajikan aneka kue balok yang orisinal maupun kekinian. Ada kue balok keju, kue balok brownies, dan kue balok double cheese.

Varian minumannya cocok untuk konsumen dewasa yang ingin diraih menjadi pelanggan baru. Ada aneka kopi, milkshake, sajian nusantara seperti es timun serut, dan aneka jus.

Bakso Malang Langgeng, seuhah kekinian

Sajian bakso Malang yang kita kenal umumnya berisi bakso, siomai, dan tahu. Lalu, ada tambahan keringan seperti bakso goreng, pangsit goreng, lalu dilengkapi kerupuk pangsit.

Namun, di Bakso Malang Langgeng, Jalan Lodaya Nomor 2 Kota Bandung, ada juga sajian bakso Malang kekinian yang mengikuti tren makanan kesukaan generasi muda saat ini, pedas.

Di Bakso Malang Enggal yang berdiri sejak 2013, sudah ada sajian bakso sambal balado sejak 2017. Pada 2018, mereka mengkreasikan bakso lava yang berisi cincang dan telur atau isian keju mozarela. Yang terbaru, mereka sajikan lagi bakso isi cabai rawit.

Baca Juga:  Melihat Sunrise dan Sunset Indah dari Taman Langit Pangalengan di Bandung

Saat disajikan, bakso lava yang bentuknya menyerupai gunung itu dipotong persis di tengah tetapi tidak sampai terbagi dua.

Terlihatlah isian bakso yang mengundang se­lera. Sesuai dengan namanya, lava, disiramlah ke atasnya sambal yang pedas seakan-akan bakso itu baru meletus mengeluarkan guguran lava berupa sambal.

Bakso kekinian disajikan terpisah dari kuahnya. Sajian berbeda yang juga ada di sana adalah steak bakso dan bakso lada hitam.

”Mengeluarkan varian yang pedas karena menyesuaikan tren. Pelanggan paling banyak menyukai yang lava,” kata ­seorang karyawan, Dewi.

Mie Akung, besar berkat konsistensi

Dengan usia 44 tahun, sangat wajar apabila sajian Mie Akung sudah dikenal luas, bukan hanya oleh warga Bandung, tetapi juga pengunjung luar kota. Setiap hari, apalagi akhir pekan, Jalan Lodaya disesaki warga yang berkunjung ke Mie Akung.

Sajian mi di Mie Akung, Jalan Lodaya Nomor 123 Kota Bandung, tidak berubah sejak dulu. Mi bisa disajikan berkuah atau kuah terpisah alias yamin. Yamin masih sama disajikan dengan cita rasa manis, asin, atau sedang. Selain itu, ada pula pilihan bihun.

Pilihan isiannya tetap sama. Ada bakso, pangsit, tahu, siomai, dan ceker. Kelimanya bisa dipilih sebagian atau semuanya, dan bisa pula ­disantap tanpa mi. Boleh satu porsi atau ­setengahnya.

Bukan hanya menyantap mi bakso, ada pula aneka minuman yang menyegarkan. Yang paling populer sejak dulu adalah es duren, kendati seka­rang sudah jarang disajikan. Pilihan minum­an lain yang juga nikmat sehabis menyantap mi bakso, yaitu es campur, es teler, es alpukat kelapa, dan banyak lagi.

Menurut Ade yang sekarang ikut serta menge­lola Mie Akung, mereka berusaha supaya cita rasa Mie Akung tidak berubah sejak dulu, yaitu sejak masih berupa penjaja bakso keliling di sekitar Taman Maluku.

Mie Akung baru menetap di Jalan Lodaya pada 1996, setelah sempat mangkal di Jalan Ternate dan Jalan Ambon.

Dengan konsistensi rasa, yang berbeda dari Mie Akung hanyalah ruangannya yang semakin luas sehingga bisa berkapasitas 140 orang.

”Alhamdulillah karena ditekuni, jadi kami enggak buka cabang, tetapi diperluas saja,” kata Ade.

Sumber: Pikiran-rakyat.com

PMB UM Bandung