Opini

Berbeda Memulai Puasa Ramadhan, Muslim Indonesia Sudah Biasa

×

Berbeda Memulai Puasa Ramadhan, Muslim Indonesia Sudah Biasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto).

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Perbuatan untuk ibadah saum, jauh sebelum ajaran Rasulullah Muhammad SAW sudah menjadi syariat yang telah dijalankan.

Syariat Allah SWT sejak awal manusia ada di situ ajaran juga sudah ada, jenis dan macam ragam ibadah dari generasi ke generasi sumbernya tetap dari Allah SWT.

Euforia dan bahagia umat Islam menyambut Ramadhan merupakan khas tersendiri. Suasana khidmat penuh rahmat bagian dari kemuliaan bulan Ramadhan.

Sejak usia belia mulai mengenal ibadah saum Ramadhan hingga saat ini, suasana senang dan bahagia cenderung tidak berubah.

Kesenangan dan kebahagiaan ketika usia belia kala itu sangat sederhana. Ada beberapa kebiasaan setiap masuk bulan Ramadhan yang tidak biasa dipersiapkan dan dilakukan dari bulan-bulan lainnya.

Milsanya orang tua beramai-ramai ke pasar untuk membeli daging serta bumbu yang lengkap, buah-buahan segar, dan sirupnya.

Bagiku sangat senang karena sehari-hari di bulan selain Ramadhan makan dengan banyak protein dan nutrisi tinggi sangat jarang.

Biasanya orang tua selama Ramadhan mempersiapkan menu makan dan minum termasuk saat berbuka saum sangat sangat luar biasa.

Berbeda sekali ketika selain Ramadhan, makan sehari-hari dengan ikan teri dengan sayur kecemplung (sayur bening), untuk menu daging dan ikan sebulan sekali juga jarang.

Anggaran belanja dapur selama Ramadhan naik hingga tiga kali lipat, kadang-kadang lebih.

Baca Juga:  MPW PWM Jawa Barat Dorong Penguatan Wakaf Untuk Meningkatkan Perekonomian Bangsa

Alhamdulillah sepanjang yang diketahui selalu ada rezekinya sehingga selama satu bulan penuh kebutuhan menu makanan bernutrisi terpenuhi.

Keberkahan Ramadhan secara material memberikan nuansa tersendiri bagi masyarakat Islam di pinggiran kota atau di perkampungan. Semua umat Islam punya kesadaran berbagi pada sesama yang meningkat tajam.

Bukan hanya di kampung-kampung wilayah perdesaan, termasuk umat Islam di perkotaan, mereka berbagi makanan sangat antusias dan kadang-kadang melampaui kebutuhan sehingga overload tidak termanfaatkan.

Spirit menyambut Ramadhan memang sangat luar biasa, bahkan masih teringat hingga saat ini.

Selain menu makan dan minum yang luar biasa, sebelum akhir Ramadhan, orang tuaku membelikan pakaian baru. Ini tradisi yang sangat-sangat menyenangkan sekali.

Hawa lapar dan haus setiap hari tidak terasa hilang seketika tertutup oleh kebahagian telah dibelikan pakaian baru, mulai dari peci, baju, celana, sarung, dan sendal.

Kata orang tua saat itu, pakaian yang dibelikan hadiah untuk anak yang rajin puasa hingga penuh satu bulan.

Teringat ketika usia sudah menginjak masa remaja, saat itu sudah masuk sekolah Madrasah Tsanawiyah dan pada saat itu tinggal di salah satu pondok pesantren, Sindang Salam, lokasinya di kampung Cipeuteuy.

Pada suatu ketika Ramadhan tiba dan saat itu terdengar dari mulut ke mulut akan terjadi perbedaan hari awal puasa Ramadhan, sempat dahiku berkerut kaget juga mendengarnya.

Baca Juga:  Melalui Tali Asih, PDM Subang Abadikan Jasa Para Tokoh dalam Peringatan Milad ke-112 Muhammadiyah

Ketika masih usia kecil belia mungkin tidak sadar dan orang tua tidak banyak bicara terkait perbedaan waktu mulai puasa.

Ketika sedikit memiliki wawasan ilmu keislaman, sebagai santri, saya mencoba mencari informasi tentang perbedaan tersebut.

Ternyata sang kiai tempatku mondok salah satu di antara tokoh agama di wilayah kabupaten Karawang yang selalu berbeda dengan keputusan pemerintah terkait waktu puasa Ramadhan.

Selidik demi selidik yang menyebabkan berbeda kiaiku menggunakan metode dan pendekatan penanggalan dengan cara menghitung (hisab) yang jauh-jauh hari sudah ditentukan tanggal dan hari awal Ramadhan.

Perbedaan awal Ramdhan sejak dahulu, hanya di masyarakat Islam saat itu selalu menjadi perbincangan cukup pelik. Apalagi masyarakat awam (kurang memiliki pengetahuan banyak) hanya mengikuti dan taklid (mengikuti tanpa alasan).

Apa pun keputusan pemerintah itu yang diikuti. Hal yang membuat kagum pada kiaiku saat itu, sangat memegang prinsip keilmuannya tanpa harus takut sama lingkungan ataupun pemerintah.

Padahal ketika masa Presiden Soeharto cukup terkenal dengan ketegasan terhadap para pembangkang pada kebijakan negara.

Saat itu, mencoba sadikit mencerna tentang perbedaan awal Ramdhan, memang betul yang menjadi perbedaan karena perbedaan metode dan pendekatan.

Pemerintah saat itu metode rukyat dan sebagian umat Islam menggunakan metode hisab.

Baca Juga:  Membangun Generasi Kreatif dan Mandiri Melalui Merdeka Belajar

Nalarku setelah sedikit mencoba mengurai perbedaaan tersebut sesuai dengan kemampuan logik thinking-ku kala itu, dua metode dan pendekatan dibandingkan, ternyata sikapku memilih pendekatan hisab karena itu lebih modern dan dapat di pertanggungjawabkan.

Bahkan sempat berdebat dengan guru bahas Arab terkait perbedaan puasa. Saat itu guruku memilih pendekatan rukyat, sementara pahamku pendekatan hisab, lumayan seru sekali pun menerima bentakan dari guruku.

Hanya sayang sekali, mulai tahun ini pendekatan imkan rukyat pemerintah kriterianya semakin mempertajam risiko perbedaan dengan wujudul hilal Muhammadiyah karena derajat tinggi hilal ditingkatkan dengan mengikuti kesepakatan MABIMS beberapa negara ASEAN.

Semoga perbedaan ini tetap menjaga kerukunan umat Islam dalam menjalankan ibadah saum Ramadhan tanpa harus saling menyalahkan satu sama lainnya.

Diperlukan sekali para kiai, ustad, ajengan, dan guru ngaji di mana pun berada tetap memberi wawasan pada masyarakat lebih objektif (jujur dan benar) tidak dibumbui dengan sikap tendensius.

Cukup disayangkan sikap pemerintah melalui Kementerian Agama, momentum Sidang Isbat penentuan Ramadhah tahun ini 1443 Hijriyah, Muhammadiyah tidak diundang.

Padahal selama ini pemerintah selalu mengundang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan. Semoga umat Islam tidak terpancing dalam suasana Ramadhan ini, kebesaran hati umat Islam Indonesia memang sangat santun dan beradab.****