Menengok Aktivitas Budidaya Lebah Trigona di Pusat Kota Bandung

oleh -
Warga di Kota Bandung berhasil budidaya lebah trigona (Foto: Siti Fatimah).

BANDUNGMU – Budidaya lebah atau madu biasanya dilakukan di wilayah pedesaan, tapi warga RW 2 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, ini membuktikan bahwa di tengah kepadatan wilayah dan pusat kota bukan menjadi hal mustahil untuk berkarya dan budidaya madu.

Setiap rumah yang berada di RW 2 kini dihiasi dengan tanaman yang jadi makanan lebah Trigona. Ada juga kotak-kotak berbentuk persegi panjang yang jadi sarang lebah dan tempat produksi madu Trigona.

Biasanya, orang akan takut tersengat lebah tapi tidak untuk lebah Trigona. Karena lebah Trigona tercipta tanpa memberikan sengatan dan mudah untuk dipelihara.

Secara fisik, lebah trigona memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan lebah avis dengan hampir seluruh tubunya berwarna hitam. Adapun sistem sarang lebah trigona berbentuk gumpalan tidak teratur, berbeda dengan sarang lebah pada umumnya yang membentuk pola segi enam.

Lebah trigona dapat memberikan manfaat dengan berbagai macam produk yang berkhasiat seperti madu, propolis, dan bee polen trigona. Berbicara khusus terkait madu trigona, secara umum rasa madu dipengaruhi dengan jenis tanaman yang dikonsumsi lebah.

Ketua Rukun Warga (RW) 2 Neneng Hesti mengatakan, berawal dari seorang warga yang budidaya lebah lalu dia melihat potensi tersebut dapat dilakukan oleh warga di lingkungannya.

Setelah berjalan lebih dari setahun, akhirnya beberapa warga berbondong-bondong mendaftar untuk budidaya lebah Trigona.

Pihak RW memberikan lebah dan sarangnya secara cuma-cuma, hanya saja setiap warga harus menyiapkan pakan berupa tanam-tanaman seperti kaliandra, matahari, air mata pengantin dan jenis tanaman lain.

“Awalnya pada 2019 lalu mulai program budidaya lebah Trigona, terinspirasi dari salah seorang warga yang lebih dulu membudidayakan lebah tersebut. Kemudian mengajak warga sekitar untuk ikut serta,” kata Hesti, dikutip dari  Detik.com edisi Jumat (21/08/2020).

Dia mengatakan, saat ini ada sebelas rumah yang sudah mulai budidaya lebah Trigona. Masa panen berbeda-beda, namun rata-rata madu sudah dapat dinikmati dalam kurun waktu satu bulan.

Selain di rumah-rumah warga, secara swadaya warga Cibangkong membuat lahan berukuran 12×1 meter untuk budidaya lebah Trigona secara bersama-sama. Masyarakat secara bergiliran merawat tanaman dan memeriksa sarang lebah Trigona.

Di samping merintis budidaya lebah Trigona sebagai salah satu upaya meningkatkan ketahanan pangan warga, Hesti juga turut menerapkan pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) kepada warga salah satunya dengan pembuatan sarang, stiker, dan botol plastik madu.

“Kita buat kotaknya (sarang lebah) sendiri oleh warga sini. Lemari tempat penyimpanan kotaknya juga sama, dibuat oleh warga sekitar sini. Nanti kalau warga yang mau membudidayakan lebah, kita berikan,” ujarnya.

Setelah hasil dari madu Trigona dinikmati oleh masyarakat, pihaknya sedang mengusahakan membuat legalitas kelompok tani sehingga dapat memperjualbelikan hasil budidaya lebah. Menurutnya, satu kilogram madu bisa dijual seharga Rp 250 ribu.

“Rencana kasih dulu secara cuma-cuma (lebah dan sarang) dari RW setelah berkembang biak dan madunya dimakan sendiri. Setelah 1 liter baru kita jual. Jualnya kolektif, kita sedang menuju legalitas kelompok tani minimal 15 orang,” tuturnya.

Dia berharap, dengan adanya budidaya madu Trigona ini masyarakat dapat lebih mandiri untuk menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri.

“Untuk meningkatkan kesejahteraan warga supaya mau berbagi, memberi, dan berkolaborasi supaya tidak sendiri-sendiri,” pungkasnya. (Siti Fatimah/Detik.com).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *