UMBandung
Sosbud

Dipelopori oleh RA Wiranatakusumah II, Inilah Sejarah Pendopo Kota Bandung Yang Menjadi Kediaman Wali Kota

×

Dipelopori oleh RA Wiranatakusumah II, Inilah Sejarah Pendopo Kota Bandung Yang Menjadi Kediaman Wali Kota

Sebarkan artikel ini
Pendopo Kota Bandung (Foto: bandung.go.id)

BANDUNGMU.COM, Bandung — Banyak bangunan bersejarah di Kota Bandung yang hingga kini masih terawar dengan baik bahkan dijadikan kantor pemerintahan. Salah satunya adalah Pendopo Kota Bandung yang awalnya menjadi kediaman Bupati pada masanya. Kini, pendopo yang terletak di Jalan Dalemkaum tersebut berfungsi sebagai rumah dinas Wali Kota Bandung.

Pendopo ini didirikan pada tahun 1812 dan dikenal karena arsitektur etniknya serta atap limas yang tetap terjaga keasliannya. Di balik gerbang kayu yang sering tertutup rapat, terdapat taman dengan rumput hijau yang subur, kolam, dan pepohonan.

“Bangunan ini adalah yang pertama dibangun di kawasan Alun-alun Bandung, dimulai pada tahun 1811 dan selesai tahun 1812, hanya dalam waktu setahun. Pembangunan ini seiring dengan berdirinya Kota Bandung dan menjadi bangunan pusat pemerintahan pertama. Pembangunannya juga bersamaan dengan Jalan Raya Pos atau Groote Postweg,” ujar Felia Ayu Safira, pemandu wisata dari Tourist Information Center (TIC) Kota Bandung, seperti dikutip dari laman bandung.go.id pada Senin (03/06/2024).

Baca Juga:  Inilah 6 Lagu “Bandung” dari Masa ke Masa, Nomor 6 Bersejarah Banget!

Felia menjelaskan bahwa titik pembangunan tersebut sesuai dengan tata letak pemerintahan tradisional masa lalu. Kantor pusat pemerintahan terletak di seberang Alun-alun, Masjid Raya di sebelah barat Alun-alun, dan Pasar Baru di sebelah timur Alun-alun Kota Bandung.

Pembangunan Pendopo dipelopori oleh RA Wiranatakusumah II atau Raden Indrareja yang juga dikenal sebagai Dalemkaum. Pendopo ini memiliki luas 18.984 meter persegi, terdiri dari bangunan utama, halaman, pendopo, serta area barat dan timur.

Salah satu hal menarik dari Pendopo ini adalah adanya pohon beringin yang diapit oleh dua dinding berlonceng. Pohon ini melambangkan bahwa pemimpin Kota Bandung ingin mengayomi masyarakatnya, seperti rimbunnya pohon tersebut. Lonceng pada dinding digunakan pada masa pemerintahan Belanda untuk menandakan kematian atau eksekusi mati.

Baca Juga:  Wisata Tersembunyi di Tengah Kota Bandung, Kampung Mural Bagus Rangin

“Lonceng asli terletak di sebelah kanan Pendopo (arah menghadap jalan), sementara lonceng di sebelah kiri dengan pahatan inisial DR dibangun pada era Wali Kota Dada Rosada. Pada masa pemerintahan Bupati, lonceng ini digunakan sebagai peringatan bencana. Lonceng ini menjadi simbol peringatan sehingga tidak diperkenankan ada yang membunyikannya tanpa alasan. Ada kepercayaan bahwa membunyikan lonceng tanpa alasan akan membawa hal buruk,” jelasnya.

Di bagian belakang Pendopo, terdapat Ruang Kenegaraan yang digunakan Wali Kota Bandung untuk menerima tamu domestik dan mancanegara. Terdapat satu pintu besar di tengah ruangan yang merupakan ruang istirahat untuk Wali Kota. “Ruangan ini tidak dibuka untuk umum, tetapi kurang lebih isinya sama seperti tempat istirahat umumnya. Ada tempat makan dan tempat tidur untuk Wali Kota,” tambahnya.

Masuk melalui selasar bagian kiri Pendopo, terdapat Ruang Arab yang dibangun pada tahun 1935 oleh Presiden pertama RI Soekarno. Kaca patri pada jendela Ruang Arab masih terjaga keasliannya. “Presiden Soekarno membangun Ruang Arab yang biasanya digunakan Wali Kota untuk rapat dengan tamu, dengan nuansa art deco. Arsitektur art deco dipilih untuk melambangkan kebebasan, mencerminkan keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka dan bebas berkarya,” ujarnya.

Baca Juga:  Orang Baik Menurut Jakob Sumardjo

Nama Ruang Arab dipilih karena interiornya didominasi oleh ukiran huruf Arab, yang terlihat pada guci dan pajangan dinding. Pendopo Kota Bandung sejak dulu telah menjadi tempat berkumpul, menerima tamu, serta mengadakan berbagai acara dengan masyarakat. Pendopo dirancang tanpa pintu sebagai simbol keterbukaan terhadap masyarakat dari manapun.

“Dulunya, Pendopo ini berdinding kayu dan beratap ilalang. Kemudian pada tahun 1850, Bupati Wiranatakusumah IV merenovasi bangunan ini, mengganti dindingnya dengan bata dan atapnya dengan genteng,” tutupnya.***

PMB UM Bandung