Sosbud

Mengenal Situ Uncal di Kota Bandung yang Kini Sudah Lenyap

×

Mengenal Situ Uncal di Kota Bandung yang Kini Sudah Lenyap

Sebarkan artikel ini
Sisa-sisa Situ Uncal di Jalan Parakansaat, Kota Bandung (Foto: Ade Bayu Indra/PR)

BANDUNGMU.COM – Mungkin sudah tidak asing lagi kita mendengar nama Situ Patenggang atau Situ Cileunca yang ada di kawasan Bandung selatan. Terutama Situ Patenggan, banyak dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Namun, tahukah Anda nama Situ Uncal? Mengutip Pikiran Rakyat online, Situ Uncal merupakan danau ­se­luas 2.000-an meter persegi di Arcamanik, Kota Bandung, yang ternyata saat ini telah lenyap.

Spanduk kuning berukuran besar, berisi larangan membuang sampah, terpampang di sana. Namun, orang-orang seperti tidak peduli. Kantong-kantong plastik dan bekas bungkus makanan minuman berserakan.

Baca Juga:  Persib Waspadai Kebangkitan Persiraja

Pegiat Kelompok Riset Ce­kungan Bandung (KRCB), T. Bachtiar, mengatakan, hampir semua situ yang pernah ada di Kota Bandung, baik yang dimi­liki perseorangan maupun di la­han pemerintah, kini sudah le­nyap.

Mereka bersalin menjadi bangunan yang sedi­kit sekali meresapkan air ke dalam ta­nah. Dalam catatan Bachtiar, Leu­wipanjang dan Kopo me­ru­pa­kan salah satu kawasan dengan paling banyak jumlah situnya.

Di bagian utara, pernah ada Situ Gunting. Lalu, ada Situ Gu­muruh. Selain situ, Bandung juga memiliki banyak legok (ta­nah rendah) yang satu persatu hilang ­karena diuruk tanah agar rata dengan lingkungan kanan kirinya.

Baca Juga:  Kang Pipit "Preman Pensiun" Meninggal Dunia

”Hilangnya situ dan legok ada­lah awal bencana banjir. Me­reka secara alami, karena berada di lahan yang lebih rendah, menjadi wadah air. Tanpa situ, limpasan air permukaan terus membesar lalu menggenang,” ucap Bachtiar, yang juga me­nulis buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat.

Bachtiar berpendapat, pembelian lahan-lahan situ atau yang potensial menjadi parkir air merupakan salah satu lang­kah strategis yang bisa diambil Pemkot Bandung untuk meng­antisipasi banjir.

Keterbatasan anggaran semestinya tidak jadi alasan. Ada cara dan inovasi yang dapat ditempuh. Ia juga menekankan pen­ting­nya tanggung jawab pem­kot memberikan teladan da­lam me­ngelola air, bukannya membiarkan situ-situ lenyap.

Baca Juga:  Mengenal Ritual Ngamandian Goong Sibeser di Kampung Jajaway

Kompleks-kompleks pemerintahan, dari level kota hingga kelurah­an, harus seca­ra optimal meresapkan air hujan.

Selasa, 18 Februari 2020 sore, hujan deras mengguyur kota. Di sepanjang Jalan Parakan­saat, ditemui beberapa titik genang­an yang merendam seluruh badan jalan.

Di bebe­ra­pa permukiman di sekitar­nya, termasuk salah satu perumahan mo­dern, ditemu­kan genangan di mana-mana.***