Mengenal Ritual Ngamandian Goong Sibeser di Kampung Jajaway

oleh -
Ngamandian Goong Sibeser (INILAH/Agus Satia Nagara).

BANDUNGMU.COM – Ngamandian Goong Sibeser merupakan salah satu ritual adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Jajaway, Kabupaten Bandung Barat.

Seperti diketahui, ritual upacara Ngamandian Goong Sibeser bertujuan untuk meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha esa.

Mengenai Goong Sibeser yang digunakan sebagai media Upacara Ngamandian Goong Sibeser disinyalir tidak terlepas dari amanat leluhurnya.

Tokoh masyarakat setempat, Abah Unar menjelaskan, sora goong ”gung”, eta hormat kanu agung gusti alloh yen hate kudu buleud sumujud ka Gustina. (Suara Goong itu “gung” adalah hormat pada keagungan Tuhan dengan hati bulat harus bersujud pada Tuhannya).

“Memperhatikan tanda-tanda alam di Kampung Jajaway sudah menjadi aktivitas tradisi yang dilakukan oleh para pemangku adat,” jelasnya.

Menurutnya, upacara Ngamandian Goong Sibeser dilakukan dengan melihat tanda-tanda alam yang difokuskan pada kondisi air di Sungai Tarengtong, tepatnya di kaki Bukit Tarentong.

Menurut Abah Unar, ada tradisi lisan yang turun-temurun dari leluhurnya bila membaca tanda-tanda alam di muara bojong, yaitu lamun Susukan Tarengtong caina ngoletrak, daun dipasir ngarangrangan pek maraneh geura sadupuhun ka Hyang Agung sanuk-sanuk ku ngalaksanakeun Ngamandian Goong Sibeser kucara ngadoa maké talari aturan karuhun.

(Kalau sungai Tarongtong airnya surut, daun pasir sudah kering segera meminta ampunan kepada Tuhan Yang Maha esa dengan melaksanakan Ngamandian Goong Sibeser dengan cara berdoa memakai aturan leluhur).

“Amanat leluhur inilah yang menjadikan suatu kebiasaan turun-temurun dari masyarakat Kampung Jajaway untuk selalu memeriksa tanda-tanda alam dari sumber mata air Tarengtong yang akan dijadikan tempat melakukan upacara,” tuturnya.

Lebih jauh Abah Unar menerangkan, tanda-tanda alam yang diamati oleh pemangku adat, antara lain warna, bau, dan rasa airnya.

Menurutnya, terkait dengan rasa air, benda alam ini biasanya memberikan tanda gaib kepada pemangku adat, di mana untuk mendapatkan tanda secara “gaib” itu, pemangku adat melakukan komunikasi nonverbal. Sehingga mengetahui apabila keadaan air kurang baik yang berarti menandakan keadaan alam sudah menghawatirkan.

“Tanda-tanda alam yang menghawatirkan diyakini petunjuk dari leluhur kepada pemangku adat untuk segera melakukan Upacara Ngamandian Goong Sibeser,” terangnya. (Agus Satia Nagara/Inilahkoran.com).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *