Polhukam

Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung: Pelaporan Din Syamsuddin ialah Bentuk Lain Islamphobia

×

Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung: Pelaporan Din Syamsuddin ialah Bentuk Lain Islamphobia

Sebarkan artikel ini
PDPM Kota Bandung

BANDUNGMU.COM – Pelaporan Din Syamsuddin sebagai tokoh radikal, tentunya mencederai iklim demokrasi di Indonesia. Berkaitan dengan itu, PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung tidak menerima kalau Pak Din disebut radikal.

Cepi Aunilah, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung, mengatakan bahwa pelaporan itu adalah upaya penggiringan opini untuk menyudutkan Islam, sebagai bentuk lain daripada Islamphobia.

“Tuduhan itu, selain tak berdasar, merupakan bentuk dari penggiringan opini bahwa paradigma Islamnya pak Din Syamsuddin terkategori radikal.” ujarnya dalam rilis yang diterima Bandungmu.com, Sabtu (13/2/2021).

Cepi menjelaskan, bahwa kritik yang selama ini disampaikan Din merupakan bagian dari panggilan iman, keilmuan, dan tanggung jawab kebangsaan.

Baca Juga:  Islam Harus Ditampilkan Sebagai Agama Kemajuan

“Kritik pak Din kepada penyelenggaraan negara memang diperlukan untuk menyeimbangkan visi-misi pemerintahan dalam memajukan Indonesia. Saya yakin bahwa itu merupakan implementasi dari iman, ilmu, dan tanggung jawabnya sebagai anak bangsa.” jelasnya.

Wakasek bidang Kesiswaan SMP Muhammadiyah 8 Antapani ini juga mengatakan bahwa dalam situasi negara yang penuh masalah, sebaiknya semua pihak berpikir dan bekerja serius menyelesaikannya, bukan lantas membuat gaduh aras sosial dengan pelaporan yang tak berdasar.

“Berbagai problematika kehidupan, akibat dari pandemi covid-19 ini, hendaknya melahirkan perenungan untuk fokus bekerja menanggulanginya bersama-sama. Bukan lantas, membuat narasi-narasi yang tak berdasar.” katanya.

Baca Juga:  Negarawan Sejati Itu Bernama Buya Ahmad Syafii Maarif

Bogor Message

Diberitakan sebelumnya, bahwa Prof Abdul Mu’ti juga menuturkan, Din Syamsuddin telah memprakarsai dan menyelenggarakan pertemuan ulama dunia di Bogor semasa menjadi utusan khusus Presiden Jokowi untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban. Pertemuan tersebut melahirkan Bogor Message yang berisi tentang wasathiyah Islam atau Islam moderat.

“Bogor Message adalah salah satu dokumen dunia yang disejajarkan dengan Amman Message dan Common Word. Pak Din adalah moderator Asian Conference of Religion for Peace (ACRP), dan co-president of World Religion for Peace (WCRP). Tentu masih banyak lagi peran penting Pak Din dalam forum dialog antar-iman. Jadi sangatlah keliru menilai Pak Din sebagai seorang yang radikal,” tuturnya.

Baca Juga:  GAR ITB Laporkan Soal Tindak Radikal, Mahfud MD: Din Itu Kritis, Bukan Radikalis

Mu’ti juga berbicara latar belakang Din Syamsuddin sebagai akademisi. Bagi Mu’ti, Din merupakan sosok profesor yang terkemuka.

“Sebagai akademisi dan ASN Pak Din adalah seorang guru besar politik Islam yang terkemuka. Di UIN Jakarta Pak Din adalah satu-satunya guru besar Hubungan Internasional. Secara akademik, FISIP UIN sangat memerlukan sosok Pak Din. Saya tahu persis, di tengah kesibukan di luar kampus, Pak Din masih aktif mengajar, membimbing mahasiswa, dan menguji tesis atau disertasi,” pungkasnya.