Bemo, Pernah Merajai Jalanan Kota Bandung

oleh -
Ilustrasi - MIDGET MPA atau bemo di Indonesia, produksi tahun 1950-an.* /ERWIN KUSTIMAN/PR.

BANDUNGMU.COM – Akhir April tahun 1965, untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Kota Bandung bersama keluarga, karena kakak pertama akan menikah di kota ini.

Pada tahun itu, saya sudah berumur tujuh tahun, sehingga berapa pengalaman selama di Bandung masih menjadi kenangan, seperti pengalaman naik bemo.

Kendaraan dengan bentuknya yang unik ini tidak ada di desa kami. Demikian juga lampu lalulintas yang digantung di setiap perempatan jalan, dengan tiga warna yang berjalan otomasis. Kendaraan berhenti ketika lampu merah menyala, dan berjalan kembali ketika lampu hijau menyala.

Lampu lalulintas yang digantung dengan kawat baja ini, tak ada di desa kami di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tahun itu, karena jumlah kendaraan di sana hanya beberapa saja selama seharinya. Paling truk milik Ugin yang setiap hari ada di sana. Tidak setiap hari, truk tangki minyaktanah dan truk yang mengangkut belanjaan dari Garut.

Ke Bandung lagi tahun 1974 untuk sekolah. Bemo, becak motor itu masih ada. Suaranya masih seperti tahun 1965, hanya asapnya yang lebih tebal.

Penumpangnya tujuh orang, satu orang di depan, dan enam orang di belakang, berhadapan, lutut bisa beradu dengan penumpang di depannya. Supir bemo itu mau enak sendiri, bila ada lubang di jalan, sopir akan menghindar dari lubang itu, sehingga ban depan tidak masuk ke lubang. Nahas bagi ban belakang dan penumpangnya.

Keinginan dari Bung Karno untuk mengganti becak di Jakarta sebagai ibu kota Negara RI sudah ada sejak lama.

Dipicu lagi pada saat Jeans Simmon, artis film Ivanhu, yang menyatakan keinginannya kepada Bung Karno, untuk naik becak di Jakarta, pada saat Bung Karno sebagai kepala Negara berkunjung ke Amerika Serikat tahun 1956.

Kabarnya, Bung Karno tidak berkenan dengan keinginan Jeans untuk naik becak, karena becak merupakan exploitation l’homme par l’homme, eksploitasi manusia demi manusia. Bagi Bung Karno, mengemudi becak dinilainya tidak manusiawi.

Rupanya, inilah gagasan yang kemudian dilaksanakan oleh Bung Karno untuk mengganti becak dengan becak bermotor atau bemo, berbarengan dengan akan dilaksanakannya Games of the New Emerging Forces (GANEFO), Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang, ajang olahraga yang digagas Bung Karno akhir tahun 1962, dan dilaksanakan November 1963, sebagai tandingan Olimpiade. Pada mulanya bemo beroperasi seperti taksi, untuk mengantar penumpang ke berbagai tujuan. Namun jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah pengunjung.

Setelah pesta oleh raga itu selesai, bemo diperbanyak jumlahnya, akan digunakan sebagai moda transportasi di Ibukota Negara dan di beberapa kota, seperti di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Solo, Semarang, Malang, Padang, Manado, dll.

Pada tahun 1960-an, delman dan becak menjadi angkutan warga kota yang paling banyak digunakan. Delman mampu membawa lima penumpang dan belanjaan, sedangkan becak dapat membawa dua orang penumpang dan belanjaan. Karena menggenjot becak dianggap tidak manusiawi, maka timbullah gagasan untuk menggantikan becak dengan bemo. Namun upaya itu tidak bisa serempak dilaksanakan. Keduanya mempunyai penumpangnya sendiri.

Oleh pabriknya di Jepang, kendaraan roda tiga buatan Daihatsu ini dinamai Midget, bermesin 2 tak, dengan kapasitas 250 cc, dan bertenaga 7,8 dk. Semula, bemo dirancang berupa truk kecil untuk pengangkutan barang. Karena bemo dianggap praktis, mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, serta dapat berjalan lebih cepat dibandingkan dengan becak, akhirnya bemo banyak digunakan warga kota.

Ciri yang paling khas dari bemo adalah knalpotnya yang ngebul, berasap. Itu bukan karena mesinnya rusak, tapi karena efek dari oli samping, akibat dari bemo yang bermesin 2 tak, karena hanya memerlukan dua langkah untuk menghasilkan tenaga. Langkah hisap dan buang terjadi bersamaan saat piston bergerak ke bawah (TMB – Titik Mati Bawah atau BDC – Bottom Dead Centre), sedangkah langkah kompresi dan bakar terjadi bersamaan saat piston bergerak ke atas (TMA – Titik Mati Atas atau TDC – Top Dead Centre).

Keinginan dan penyataan Bung Karno menggema ke mana-mana, “Eksploitasi manusia demi manusia” dikutip pejabar kota. Kota-kota besar pun merencanakan akan mengganti becak dengan bemo. Sebelum bemo didatangkan di Kota Praja Bandung, calon pengemudi bemo itu direncanakan berasal dari pengemudi becak yang akan dilatih. Pelatihan mengemudi bemo atau Sekolah Mengemudi Bemo kemudian diadakan pada pertengahan Juli 1962 di halaman kantor Polisi Lalulintas di JL Cicendo, yang diikuti 105 orang.

Kehadiran bemo di Kota Praja Bandung, secara resmi dimulai pada hari Minggu, 24 September 1962. Saat itu dilepas 50 bemo dalam upacara di balai kota oleh Wali Kota Prijatna Kusumah. Rencananya Kota Praja Bandung akan mendatangkan 3.000 unit bemo. Namun baru 100 unit yang ada hingga September 1962.

Pada tahun 1970-an, bemo di Bandung bukan lagi berfungsi sebagai taksi seperti awal kedatangannya di Jakarta, tapi diatur mempunyai trayek masing-masing, sehingga tidak bisa melaju di luar trayek itu. Terminal pusatnya di Kebonkalapa, kemudian dibagi ke beberapa jurusan sesuai trayeknya: Kebonkalapa – Cicadas, Kebonkalapa – Buahbatu, Kebonkalapa – Sukajadi/Pasar Sederhana, Kebonkalapa – Ciroyom, dan Kebonkalapa – Situ Aksan.

Periode tahun 1970-an – 1980-an merupakan puncak kejayaan bemo menjelajahi trayek-trayek di Kota Bandung, sekaligus menjadi perjalanan menuju kematiannya. Banyak suka-duka menjadi penumpang bemo. Selama 20 tahun bemo berjasa mengantarkan orang dari terminal ke terminal yang sudah ditentukan trayek dan rutenya. Dukanya, kadang ada bemo yang mogok karena mesinnya kurang pemeliharaan, kena guyuran hujan karena plastik penutup belakang sudah tidak ada atau sudah robek-robek, atau asap knalpot yang ngebul-nya makin pekat dan bau. Kejahatan pun merajalela di Kota Bandung saat itu, dan penumpang bemo sering menjadi sasarannya.

Semula, yang melatari becak dihapuskan dan diganti dengan bemo, karena menarik becak dianggap sebagai exploitation l’homme par l’homme, seperti selalu diungkapkan oleh Bung Karno. Ketika tahun 1972, produksi Daihatsu Midget di pabriknya sudah dihentikan karena mesinnya dinilai tidak ramah lingkungan, tapi, persoalan lingkungan di Indonesia saat itu belum masuk menjadi kebijakan dalam pembangunan. Malah ada slogan, “Berilah kami pencemaran, asal rakyat bekerja”. Karenanya bemo dapat terus melaju mengantar penumpang ke berbagai jurusan di Bandung. Ketika sukucadang bemo tidak diproduksi lagi di pabriknya, banyak bengkel yang mengambil peran, membuat sukucadang tiruan, sehingga bemo dapat terus bertahan di beberapa kota.

Hadirnya produk mobil baru buatan Jepang semakin menggiurkan. Lebih cantik, lebih gesit, dan pasti, ada pemasukan uang dari setiap mobil yang masuk ke Indonesia, serta dari izin trayek baru yang dikeluarkan. Pembatasan bemo pun diadakan di beberapa kota besar. Pada tahun 1971 bemo ditiadakan di Jakarta, Surabaya, dan Malang, disusul oleh Pemda Surakarta tahun 1979.

ada era tahun 1970-an, para pemilik dealer kendaraan buatan Jepang cukup berperan dalam mementukan trayek mana yang akan dibuka, dan kendaraan apa yang akan melayani trayek atau jalur itu. Pada tahun 1970-an awal, di Bandung mulai diperkenalkan angkutan kota dengan merek Honda seri TN, seperti jurusan Kebonkalapa – Dago. Merek itulah yang banyak dijadikan kendaraan komersial di Bandung. Walau pun ada merek lain untuk jurusan lainnya, seperti Suzuki TS-20, yang saat ini dikenal dengan sebutan turungtung, tetap saja warga kota kembang ini menyebutnya Honda.

Di Kota Bandung itu terdapat 1.300 unit bemo yang memiliki surat-surat resmi, yang syah untuk beroperasi melayani warga kota di berbagai trayek. Ditambah bemo bodong dan bemo yang baru datang dari kota lain, setelah adanya pelarangan bemo di beberapa kota. Pada tahun 1987 merupakan tahun kematian bagi bemo Bandung atau sandal jepit Jepang. Pada tahun itu Kota Bandung mengadakan penggantian kendaraan dari bemo dengan kendaraan baru, atau biasa disebut peremajaan kendaraan dengan cicilan.*

Penulis: T. Bachtiar, Editor: Gita Pratiwi, Sumber: Pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *