Cerita Wabah Penyakit di Jabar Tempo Dulu, dari Jurig Kuris Sampai Pes

oleh -
VAKSINASI di tengah wabah pes di salah satu daerah, di Pulau Jawa, November 1910. /NEVILLE KEASBERRY via Twitter Potret Lawas

BANDUNGMU.COM – Sebelum pagebluk corona merebak saat ini, warga Jawa Barat sudah karib dengan berbagai wabah di zaman Kolonial Belanda.

Cacar menjadi salah satu wabah yang membuat masyarat Tatar Pasundan dicekam ketakutan. Bahkan warga mengaitkan kehadiran wabah itu dengan munculnya sosok makhluk gaib atau jurig kuris.

Tidak hanya cacar, pegebluk lain yang merenggut banyak nyawa adalah pes atau sampar. Wabah tersebut menimbulkan kematian dari warga biasa, mantri kesehatan, hingga asisten wedana. Berikut ceritanya.

Sore yang mestinya ceria oleh gelak tawa bocah-bocah selepas bermain itu berubah mencekam di Kampung/Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung (sekarang Kabupaten Bandung Barat) pada sekira 1960-an.

Diding, 66 tahun, masih ingat benar bagaimana suasana menjelang pergantian malam di kampungnya saat itu begitu sepi. Ia waktu itu masih berumur sekitar delapan tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar.

Warga memilih menutup pintu dan berdiam di rumahnya masing-masing. ”Warga buru-buru memasang lampu cempor yang diletakkan pada ayakan,” kata Diding di kediamannya, Kampung Citumpeung, Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy.

Ayakan atau alat untuk mengayak itu digantung menggunakan tali di depan rumah warga. Pendar lampu cempor yang memantul pada ayakan menghasilkan bentuk cahaya berupa totol-totol. ”Seperti kuris (bentuk totol cahaya seperti cacar),” ucap Diding.

Warga percaya cahaya yang dihasilkan tersebut bisa mengusir jurig kuris, biang keladi wabah itu. Ya, pagebluk cacar tersebut memang memunculkan cerita kehadiran makhlus halus yang membuat masyarakat ketakutan.

Dalam kepercayaan warga, jurig kuris menampakkan diri kepada keluarga yang salah satu anggotanya akan atau sudah terkena cacar. Tak ayal, ketakutan pun menyelimuti warga di Desa Nanggeleng. Diding selamat dari cacar.

Namun, adik dan kakak sepupunya terkena wabah tersebut. Cerita jurig kuris juga membuat ketakutan para murid SD yang mendapat vaksin atau imunisasi. Warga mengenal pemberian vaksin oleh para mantri tersebut dengan istilah dikuris.

Diding menyebut alat untuk vaksin seperti kalam atau alat menulis tempo dulu yang diturih atau sedikit disayatkan di kulit area bahu tangan. Bekas kuris itu hingga kini masih menempel di bahunya.

Cerita meruyaknya jurig kuris juga tercatat dalam buku karya Us Tiarsa R berjudul ”Basa Bandung Halimunan”.

Wartawan senior sekaligus sastrawan tersebut menuliskan kenang-kenangan masa kecilnya di Kota Bandung dalam kurun 1950-1960 dengan bahasa Sunda dalam bukunya tersebut.

Dalam satu tulisannya, Us mengenang pagebluk cacar yang merebak pada 1950-an di Bandung.

”Loba pengeusi Bandung nu katarajang kuris, ceuk kolot mah usum pagebuk cenah, da loba pisan nu geuring, pangpangna keuna ku sasalad cacar (banyak warga Bandung terserang cacar, orang-orang tua saat itu menyebutnya musim pagebluk karena banyaknya yang terserang cacar),” tulis Us.

Pengobatan para pengidap cacar pun hanya menggunakan cara-cara sederhana. Bekas cacar bahkan diobati dengan abu hasil pembakaran pelepang pohon kawung.

Belum adanya obat cacar, lanjut Us, membuat warga percaya penyakit tersebut tidak sembarangan karena penyebabnya jurig kuris.

”Ibur weh beja pabeja-bej‎a, pajah di Bandung aya jurig kuris. Barudak teu meunang liar, komo mangsa sandekala atawa saereupna (Cerita jurig kuris beredar di masyarakat, bocah-bocah tak boleh berkeliaran di sore hari menjelang malam,” kata Us.

Di sekolah, cerita jurig kuris bahkan semakin menguat lantaran guru membuat gambar tentang jurig sajodo atau pasangan hantu yang mematuk wajah manusia. Tapak patukan itulah yang menjadi kuris alias cacar. Akibat cerita itu, banyak warga enggan diimunisasi atau dikuris.

”Sajagjag-jagjag, hayo dibere kasakit, sina kuris. Montong! (Sudah sehat malah diberi penyakit cacat),” tulis Us.

Kisah pandemi cacar bukanlah isapan jempol. Dalam pemberitaan sejumlah koran berbahasa Belanda, cacar kerap muncul di tengah wabah lain seperti tipus, disentri, patek, dan pes.‎

Het Nieuws Van De Dag pada 20 Maret 1929 memuat pernyatan Dr. Winckel, Inspektur Departemen Kesehatan untuk Jawa Barat, tentang persoalan cacar. Koran itu menulis terdapat 27 kasus cacar di Jabar. Lonjakan terjadi pada 1950 sebagaimana tercatat dalam berita‎ AID De Preanger Bode”, 6 April 1951.

”Pada 1950, (sebanyak) 3.747 kasus cacar terjadi, yang 198 di antaranya fatal (mengakibatkan kematian). Pada 1949, 23.719 kasus cacar terjadi di Jawa Barat, 2.240 di antaranya berakibat fatal,” tulis De Preanger Bode.

Pada 1954 terjadi penurunan dengan 32 kasus cacar terjadi dengan satu orang meninggal di Jabar. Demikian laporan Java Bode pada 26 Januari 1955.

Java Bode menyebut kasus-kasus tersebut banyak terjadi di Kabupaten Garut yang tindakan pencegahannya belum terwujud dengan baik. Namun, korban meninggal di Jabar kembali melonjak hingga 514 orang dalam pemberitaan ‎ Het Vrije Volk yang mengutip Reuter pada 9 November 1962.

Persoalan buruknya sanitasi lingkungan dan populasi warga yang merangkak naik ditengarai menjadi musabab berbagai wabah mendera Jabar.

Tak hanya cacar, pandemi lain yang membuat warga ketakutan adalah penyebaran pes atau sampar. Penyakit yang ditularkan dari baksil-baksil tikus itu tidak pandang korban dari mulai rakyat, tenaga medis, hingga kelas bangsawan di Tatar Pasundan.

Wabah pes di Jabar mulai menyeruak pada sekira 1921. Bataviaasch Nieuwsblad dalam beritanya, 19 Desember 1932, menyebut pes di Jabar bermula saat sebuah kapal laut bermuatan beras dari Indocina merapat di Pelabuhan Cirebon pada 1921. Tikus-tikus dari kapal itu menularkan bibit-bibit pes yang tak hanya menjalar di Cirebon. Kuningan ikut kena imbasnya. Wabah muncul di Tasikmalaya dan Ciamis pada 1927, Garut pada 1928, Bandung pada 1929, dan juga mencapai Cianjur.

De Locomotief pada 23 Februari 1935 mencatat, wabah sampar di Hindia Belanda mencapai 23.267 kasus.

”Dari total ini, 20.597 kasus terjadi di Jawa Barat saja, (sebanyak) 20.569 di antaranya berakibat fatal,” tulis De Locomotief. Kasus-kasus pes berujung kematian juga terjadi di Tasikmalaya dan Garut.

Dalam pemberitaan De Tijd pada 23 Februari 1936, sebanyak‎ 12.968 orang meninggal akibat wabah pada 1935 di seluruh Hindia Belanda.

Sementara di Jabar mencapai 10.304 orang, termasuk di Garut dengan 4108 orang, Bandung 4034 orang, Tasimalaya 1213, dan Sumedang 604.

Kasus-kasus kematian dari golongan hamba sahaya, tenaga medis, hingga kaum bangsawan juga terjadi di Tasikmalaya dan Garut.

De Standaard, 25 April 1933, memberitakan kematian Asisten Wedana Kota Garut, Raden Kanduruan Kartanegara, akibat pes. Het Nieuws Van De Dag pada 8 September 1932 dan De Indische Courant pada 11 Juni 1934 masing-masing turut mencatat keganasan pes di Tasikmalaya.

Pes merenggut nyawa Raden Ardi, seorang mantri di Kecamatan Pagerageung, dan membuat asisten wedana serta guru mantri di Leuwisari, distrik Singaparna, diisolasi di rumahnya akibat kekhawatiran terkontaminasi dari anggota keluarganya yang terserang wabah itu.

Tiupan pes menjangkiti pula warga di distrik Ciawi dalam catatan Het Nieuws Van De Dag, 22 Agustus 1929. Koran tersebut menulis sebanyak 18 mayat dikubur di Ciawi secara sembunyi karena dugaan mengidap pes.

Amuk pes dihadapi Pemerintah Kolonial Belanda dengan membongkar rumah-rumah warga yang dianggap tak sehat. Namun kebijakan tersebut justru tak selalu dibarengi dengan penyediaan rumah yang lebih sehat. Pada beberapa kasus, tindakan Pemerintah Kolonial Belanda justru menyakiti hati masyarakat bumiputra.

Soe Hok Gie, dalam bukunya, ”Di Bawah Lentera Merah, Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920”, mencontohkan kasus wabah pes di Semarang pada 1917. Wabah itu, tutur Gie, terjadi dan meluas karena sangat buruk perumahan rakyat di kampung-kampung.

”Mereka tinggal di dalam gang-gang dengan berjejal-jejal, sempit, dan becek. Rumah-rumah penduduk terbuat dari atap rumbia dan bambu,” ucap sejarawan dan mantan aktivis mahasiswa yang mati muda tersebut.

Keadaan yang berjejal membuat sinar matahari tidak dapat masuk ruangan rumah. ”Yang tentu saja merupakan surga bagi tikus,” ujarnya.

Keadaan tersebut berpadu dengan kekurangan makan yang dialami warga sehingga wabah pun muncul. Ironisnya, langkah Pemerintah Kotapraja Semarang saat itu malah membakar rumah warga yang dianggap sarang tikus. Warga diberi waktu delapan hari untuk pindah.

”Penduduk miskin yang tidak punya apa-apa terang tidak mampu membangun rumah yang layak dalam waktu delapan hari,” ucapnya.

Tindakan-tindakan itu menyakiti dan membangkitkan masyarakat meskipun pemerintah membangun kembali perumahan rakyat karena tekanan berbagai organisasi rakyat. Persoalan tersebut menjadi bahan agitasi Sarekat Islam Semarang yang melancarkan kritik terhadap pemerintah kolonial.

Diolah dari pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *