UMBandung
Traveliana

Inilah Sejarah Singkat Mengapa Setiabudi Bandung Disebut Kawasan Ledeng

×

Inilah Sejarah Singkat Mengapa Setiabudi Bandung Disebut Kawasan Ledeng

Sebarkan artikel ini
Foto: Beritabaik.id.

BANDUNGMU.COM – Kalau kamu jalan-jalan ke arah Lembang dari Kota Bandung, pasti melewati kawasan Setiabudi juga Ledeng. Kawasan Setiabudi Kota Bandung bagian atas identik dengan sebutan kawasan Ledeng. Area ini menjadi akses penghubung antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Tapi, nama Ledeng sekarang lebih disematkan pada kawasan sekitar Terminal Ledeng dan Jalan Sersan Bajuri. Jalan itu menjadi area perlintasan kendaraan menuju kawasan Lembang yang terdapat banyak tempat wisata.

Ada sejarah cukup panjang ternyata dibalik penamaan Ledeng tersebut. Dulu, di daerah sekitar dibangun banyak pipa-pipa berukuran besar untuk menyalurkan air dari area utara ke kawasan sekitar. Sebab, area utara Bandung dulu memiliki sumber air yang sangat melimpah.

Baca Juga:  Bandrek Abah, Oleh-oleh Wajib dari Bandung Selatan

”Air yang melimpah ini disadap dan dialirkan melalui saluran pipa-pia besar ke kawasan sekitarnya,” kata pengasuh Komunitas Aleut Ridwan Hutagalung.

Pipa-pipa besar itu dibangun di zaman kolonial Hindia-Belanda antara tahun 1920-1923. Penamaan Ledeng sendiri tidak resmi dan belum diketahui sejak kapan. Tapi, penggunaan nama Ledeng diperkirakan dipakai warga sekitar setelah adanya pipa besar di sana.

”Pipa-pipa berukuran besar ini yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya nama Ledeng dari kawasan tersebut,” ucapnya.

Baca Juga:  Toko Kelom Geulis Keng, Pionir Kelom di Bandung Yang Sudah Berdiri Sejak 1942

Ledeng sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu ”leiding” yang berarti saluran. Tapi, kemungkinan terjadi pergeseran nama menjadi Ledeng karena sulitnya mengucapkan ”leiding” oleh masyarakat.

”Sampai sekarang pipa-pipa ini masih tertanam dan dipakai sebagai saluran pembagian air ke permukiman penduduk,” tutur Ridwan.

Sebelum bernama Ledeng, kawasan sekitar memiliki nama Cibadak hingga 1920-an. Nama Cibadak merujuk pada adanya mata air besar di sana. Tapi, tidak diketahui persis apakah dulu terdapat banyak badak di kawasan sekitar atau tidak.

Baca Juga:  Muhammadiyah Punya Potensi Besar Kembangkan Desa Wisata, Ini Alasannya

Nama Cibadak sendiri bisa jadi merupakan persegeran atau perubahan dari kata dalam bahasa Sunda, yaitu ”cai badag” atau air yang volumenya besar atau banyak. Dulu, sumber-sumber air di sana sangat melimpah berdasarkan cerita turun-temurun. Air itu dimanfaatkan untuk kebutuhan warga sekitar.

Sumber: Beritabaik.id

Seedbacklink