Histori dan Filosofi Lomba Panjat Pinang, Dipopulerkan Penjajah Belanda

oleh -
Tempo/M Yusuf Manurung.

BANDUNGMU.COM — Seakan-akan sudah menjadi tradisi tiap tahun, perlombaan dibuat untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Lomba panjat pinang pun jadi salah satu yang rutin dilaksanakan.

Perayaan demi perayaan dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada seluruh rakyat Indonesia yang berhasil memerdekakan mengusir penjajah dengan berjuang tanpa pantang menyerah.

Meskipun jenis perlombaan yang diadakan cenderung sama tiap tahunnya tetapi tidak menurunkan antusiasme masyarakat untuk melihat dan ikut memeriahkan acara tujuh belasan.

Sebagai permainan tradisional yang memiliki filosofi dan sejarahnya tersendiri, lomba Panjat Pinang memang termasuk paling digemari. Tidak diketahui pasi siapa yang mencetuskan pertama kali tradisi perlombaan ini dimasukkan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, tetapi atmosfer penuh semangat selalu memenuhi rangkaian perlombaan yang dipengaruhi budaya penjajah ini.

Histori Lomba Panjat Pinang

Dahulu, pada era penjajah Belanda, lomba panjat pinang dikenal sebagai de Klimmast yang artinya “memanjat tiang”. Perlombaan panjat pinang biasanya diadakan di tiap acara penting seperti salah satunya acara perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhemina, setiap tanggal 31 Agustus.

Permainan ini melibatkan dua regu yang beranggotakan beberapa laki-laki. Untuk bisa naik dari batang pinang yang sudah dilicinkan dengan minyak atau oli, tiap regu harus bekerja sama saling bahu membahu supaya berhasil menggapai hadiah yang menggantung di pucuk batang pinang.

Hadiah yang ditawarkan cukup beragam, biasanya tersedia barang elektronik, pakaian, sembako hingga sepeda. Batang pinang yang harus di panjat peserta cukup tinggi yaitu 6 sampai 8 meter.

Filosofi Lomba Panjat Pinang

Batang pohon pinang yang dilicinkan dimaknai sebagai perjuangan panjang bangsa Indonesia menghadapi berbagai rintangan dengan para peserta yang saling bergotong royong mendapatkan hadiah dimaknai sebagai semangat rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Konon, melihat rakyat miskin yang bersusah payah menggapai hadiah yang tergantung di atas batang pinang menjadi hiburan bahkan lelucon tersendiri bagi para penjajah. Karena pada masa itu bahan pangan sulit didapat, maka hadiah yang diperebutkan adalah bahan pangan pokok seperti roti, beras, gula, tepung dan lain sebagainya.

Muncul pro dan kontra terhadap permainan ini. Ada yang menganggap permainan ini merupakan momok menyedihkan bagi bangsa Indonesia lantaran membuka luka lama di mana rakyat Indonesia saat itu ditindas dan menjadi bahan tertawaan para penjajah.

Namun, tak sedikit pula yang menganggap ada nilai yang bisa kita petik dari lomba panjat pinang , yaitu untuk terus mengingat kegigihan perjuangan bangsa Indonesia untuk bersatu, semangat, dan pantang menyerah menggapai cita-cita.

Lomba panjat pinang sangat identik dengan semangat perjuangan. Meski hadirnya pandemi tahun ini kita tidak bisa melihat kemeriahan panjat pinang, semoga semangat juang tak pernah padam di hati masyarakat Indonesia.

Penulis: Alya Nur Anisya, Sumber: Ayobandung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *