Kemeriahan KAA 1955 di Mata Para Saksi Sejarah

oleh -
Inen Kusnan, fotografer Konferensi Asia-Afrika 1955 (Foto: lensaindonesia.com)

BANDUNGMU.COM — Kemeriahan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 masih selalu diperingati setiap tahunnya, tidak terkecuali tahun ini. Inen Rusnan, fotografer termuda di KAA 1955, membagi kisah kemeriahan acara yang digelar 66 tahun silam itu dalam gelaran ”MKAA Menyapa”, Jumat (5/3/2021).

Saksi sejarah tersebut mengatakan, saat itu semua masyarakat, baik dari dalam maupun luar Kota Bandung, berduyun-duyun datang ke sekitaran Gedung Merdeka untuk ikut memeriahkan acara. Semua berderet dengan rapi dari Jalan depan Hotel Preanger sampai kantor pos.

”Tetapi, tidak ditemukan sampah (berserakan), bersih,” ucapnya.

Inen mengaku terpilih menjadi fotografer untuk mendokumentasikan KAA 1955 saat usianya masih 23 tahun. Menurutnya, banyak pemuda yang ingin mendokumentasikan acara tersebut waktu itu. Namun, ia yang dipilih karena dianggap sudah menguasai alat-alat fotografi yang saat itu masih terbatas jumlahnya.

Berbekal kamera Leica IIIf buatan Jerman, Inen memotret setiap peristiwa penting yang terjadi.

”Membawa (gulungan) film saja, tidak satu atau dua roll, tetapi puluhan roll. Kurang lebih ada 20 gulungan film,” jelasnya.

Tidak tanggung-tanggung, semua proses mulai dari pemotretan, pencucian film, hingga tercetaknya foto hitam putih, dikerjakan sendiri olehnya.

Acara pembukaan berlangsung hingga tengah hari sekitar pukul 12.00 siang. Lalu satu jam setelahnya, ratusan foto yang tercetak sudah siap dipajang di lorong Gedung Merdeka.

Setiap tamu yang ingin mengambil foto, ia bebaskan untuk membayar ataupun tidak. KAA 1955 itu tentu menjadi kenangan yang membekas di sepanjang hidupnya.

Saksi sejarah lainnya, Landung, turut mengisahkan bagaimana KAA 1955 berlangsung. Saat itu, pria 96 tahun ini bertugas sebagai penghimpun kendaraan untuk para tamu undangan KAA.

Suaranya masih lantang menjelaskan pengalamannya sebagai bagian penting dari gelaran KAA. Abah Landung, sapaannya, mengatakan, ia mengumpulkan mobil klasik keinginan Bung Karno untuk transportasi para tamu undangan.

Ia mencari mobil dengan berkeliling menggunakan sepeda ontelnya sembari mampir ke beberapa tempat untuk mengajari anak-anak membaca dan berhitung. Dari sebelum Februari hingga mendekati April, mobil yang berhasil ia pinjam hanya 28 buah.

Lalu, keluarga Suwarma, lanjutnya, menyediakan 80 Mercy. Setiap satu unit mobil rata-rata diisi oleh tiga orang. Ia juga menyebut lahan parkir bagi peserta disediakan oleh Hotel Preanger.

”Tidak ada itung-itungan pake duit. Tapi (yang ada hanya) semangat tanpa pamrih,” lanjutnya.

Ia menyimpulkan, gelaran KAA bukan hanya sumbangsih pemerintah, tetapi juga rakyat kecil, khususnya di Kota Bandung. ”Kota Bandung itu Ibukota Asia-Afrika 130 negara,” kata dia bangga.

Diolah dari ayobandung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *