Menengok Masjid Salman ITB yang Didirikan Penuh Rintangan

oleh -
Masjid Salman ITB (Foto: Wikipedia).

BANDUNGMU.COM – “Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” tanya Presiden Soekarno sambil menoleh pada orang di sampingnya, Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI.

Pertanyaan itu refleks telontar dari mulutnya. Sang Menteri yang juga pimpinan NU dengan sigap menjawab, ”Salman.” Jawaban sang menteri disambut sang presiden, ”Nah itu, masjid ini saya namakan Salman!”

Ada rasa haru di sana, di antara wajah-wajah Prof. TM. Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat yang datang jauh-jauh dari Bandung. Ahad pagi itu, kalender menunjukkan tahun 1963. Dalam ruang istana, usai santap pagi seakan-akan semua bermula. Ketika masjid di hadapan kampus ITB menjadi lakon. Lakon yang kini berkisah tentang

Terdapat masa ketika seorang laki-laki yang minta izin untuk Jumatan di tengah perkuliahan dianggap ganjil. Terdapat masa ketika seorang laki-laki bersarung malah dibilang, “Wah Arab, nih.” Ada masanya celotehan, “Eh kamu mau salat, titip salam ke Tuhan ya!” menjadi sesuatu yang lumrah.

Masa-masa itu dialami betul oleh mahasiswa-mahasiswa muslim Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1960-an. Budaya Barat begitu kental di kalangan mahasiswa. Aula Barat cukup sering dipakai oleh kegiatan berdansa-dansi. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa muslim ITB yang masih “minat” untuk Salat Jumat pun harus bersusah payah berjalan kaki dari ITB untuk salat di masjid yang berada di Cihampelas.

Rektor ITB pada saat itu, Prof. Ir. O. Kosasih, pun pada awalnya menolak rencana dibangunnya masjid di sekitar kompleks ITB. Alasannya, “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta lapangan merah di ITB.”

Namun kepanitiaan yang terdiri atas Prof TM. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan lain-lain tidak lantas pasang sikap menyerah. Mereka menggalang dukungan kepada siapa pun yang mereka anggap kompeten. Buah usaha mereka pun terwujud.

Seorang dosen Planologi beragama Kristen, Drs. Woworuntu, pun menyatakan dukungannya. Bahkan Prof. Roemond, seorang Belanda yang menjadi ketua Jurusan Arsitektur pun mendukung.

Akhirnya setelah melobi ke sana-kemari, presiden saat itu, Ir. Soekarno, memberikan restu akan dibentuknya Masjid Salman ITB. Rektor ITB juga terdorong pula untuk mengizinkan.

Walhasil, tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya dapat dipakai untuk Salat Jumat.

Keunikan Masjid Salman

Hal paling mencolok yang membedakan masjid Salman ITB dengan masjid pada umumnya ialah atap masjid Salman yang tidak berbentuk kubah. Atap Masjid Salman ITB terbuat dari beton dan berbentuk cekung layaknya sebuah cawan. Makna filosofi di balik desain atap masjid ini adalah sebagai penggambaran dari seseorang yang sedang berdoa dengan tangan menengadah ke atas. Di luar bangunan utama Masjid Salman terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi. Bangunannya didesain terpadu dengan desain bangunan utama serta menggunakan material dasar beton yang sama pula.

Sudut masjid yang terakhir namun tak kalah indahnya ialah interior dalam dari Masjid Salman. Desain ruang ibadah utama Masjid Salman, baik dinding, lantai, dan langit-langit memadukan arsitektur tradisional dan modern karena sebagian besar terbuat dari kayu jati.

Pencahayaan remang dari masjid juga membawa nuansa syahdu bagi setiap orang yang sedang melakukan ibadah di dalamnya sehingga menambah kedekatan batin dalam komunikasi kepada Tuhan. Desain interior masjid dirancang sedemikian rupa meredam intensitas sinar matahari yang masuk sehingga tanpa kipas angin ataupun pendingin ruangan, hawa ketika berada di dalam Masjid Salman tetap sejuk.

Diolah dari salmanitb.com dan laman resmi ITB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *