Mengenal Lebih Dekat Bisnis Kerupuk Dorokdok di Kampung Cihamerang

oleh -
Sejak puluhan tahun lalu, warga di Kampung tersebut terbiasa memproduksi kerupuk dorokdok yang terbuat dari kulit sapi. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh).

BANDUNGMU.COM — Kampung Cihamerang, Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, terkenal akan produksi kerupuk dorokdok.

Sejak puluhan tahun lalu, warga di kampung tersebut terbiasa memproduksi kerupuk yang terbuat dari kulit sapi. Kampung Cihamerang pun sudah menjadi salah satu pemasuk kerupuk dorokdok untuk wilayah Bandung Raya, dengan pelbagai merek dagang.

“Warga di sini mulai membuat kerupuk dorokdok sejak 1990,” ujar Dewan, salah seorang perajin kerupuk dorokdok Kampung Cihamerang.

Warga Kampung Cihamerang pada mulanya hanya membuat kerupuk awut atau yang sering disebut kerupuk malarat. Kerupuk dorokdok mulai diproduksi oleh sejumlah warga yang ingin meningkatkan bisnisnya.

“Awalnya ada yang mencoba membuat, kemudian ditiru oleh warga lainnya, hingga sampai sekarang hampir seluruh warga memproduksi kerupuk dorokdok,” katanya.

Bisnis kerupuk dorokdok terbilang unik. Omzet yang dihasilkan sulit untuk diprediksi karena bergantung pada keahlian mengolah kulit menjadi kurupuk.

“Tergantung pada cara mengolah. Kalau mengolahnya kurang ahli, bisa rugi, tapi kalau mengolahnya tepat bisa mendapat untung besar,” kata pria yang mulai memproduksi kerupuk dorokdok sejak 1995 tersebut.

Dia menjelaskan, penjualan kerupuk dorokdok, tidak dihitung berdasarkan berat, tetapi berdasarkan kemasan. Namun, bahan baku dibeli berdasarkan berat kulit kering yang didatangkan dari Garut atau Cianjur.

Setiap kilogram bahan baku bisa menghasilkan sejumlah kemasan berbeda, tergantung cara mengolahnya.

“Misalnya 1 kg kulit ada yang bisa menghasilkan kerupuk 150 kemasan, ada juga yang hanya menghasilkan 120 kemasan. Jika diuangkan, setiap kuintalnya ada yang bisa menghasilkan uang Rp5 juta, ada juga yang sampai Rp9 juta, tergantung kulit yang digorengnya mengembang atau tidak,” paparnya.

Kulit yang digoreng makin mengembang, akan menghasilkan kemasan kurupuk lebih banyak atau lebih sedikit, bergantung pada cara mengolahnya.

“Tiap orang memiliki resep mengolah sendiri. Kalau mengolahnya tepat, maka akan mendapat untung, tapi jika tidak tepat maka akan rugi atau untung yang didapat tidak besar,” katanya.

Dewan sendiri bisa mendapat keuntungan belasan juta rupiah setiap bulannya dari penjualan kerupuk dorokdok.

Penulis: Mildan Abdalloh, Sumber: Ayobandung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *