Tak Sekedar Camilan Biasa, Rengginang Punya “Filosofi” Menarik Lho

oleh -
Tak-Sekedar-Camilan-Biasa-Rengginang-Punya-"Filosofi"-Menarik-Lho
Rengginang adalah salah satu camilan dan kuliner tradisional, khususnya terkenal di tatar Sunda.*** (Ilustrasi: media.istockphoto).

BANDUNGMU.COM, Bandung — Tidak sekedar camilan biasa, ternyata kuliner tradisional rengginang punya filosofi yang cukup menarik lho. Katanya rengginang itu sebagai simbol “persatuan” dan “kemakmuran”.

Ada yang mengatakan jenis kerupuk atau camilan yang satu ini identik dengan hari raya besar umat Islam yakni Idul Fitri. Ada juga yang bilang tidak seperti itu karena cemilan ini selalu ada setiap saat. Tidak bergantung pada momen.

Ya, inilah rengginang atau dalam bahasa Sunda disebut ranginang. Rengginang adalah sejenis kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk bulat dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari, lalu digoreng panas dalam minyak goreng.

Agak berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran ketannya masih tampak.

Baca Juga:  Eiger Minta Maaf, Ya Sudahlah Urusan Selesai?

Camilan rengginang bukan hanya cemilan biasa yang setiap kali muncul di acara-acara hajatan lho.

Ragam rengginang

Dikutip dari laman bebas Wikipedia, di Sumatra Barat penganan serupa rengginang dikenal sebagai batiah. Camilan ini terutama menjadi ciri khas daerah Payakumbuh.

Rengginang juga ada yang menggunakan beras ketan hitam. Rengginang harus menggunakan beras ketan, bukan beras biasa. Jika menggunakan nasi sisa yang dikeringkan, maka biasa disebut rangining.

Di Jawa Tengah camilan ini dikenal dengan intip goreng, yakni kerak nasi sisa menanak yang melekat pada dandang lalu dikeringkan dan digoreng.

Perbedaan antara intip goreng dan rengginang hanyalah pada ukurannya. Intip berukuran lebih besar dibandingkan dengan rengginang karena dicetak dari dasar dandang atau periuk penanak nasi.

Baca Juga:  1 Syawal Bukan Akhir Ramadhan

Pada beberapa tempat di Jawa Barat dikenal pula penganan mirip rengginang, tetapi dengan bahan dasar singkong atau gaplek yang disebut renggining.

Di Jawa Timur, selain rengginang terasi, varian yang cukup dikenal adalah rengginang lorjuk yang posisinya ada di tengah rengginang.

Lorjuk adalah jenis kerang yang bentuknya memanjang sekitar dua hingga tiga inci dan menyerupai pisau sehingga varian ini di beberapa negara lain disebut dengan “jackknife”.

Rengginang pada umumnya dibuat dengan ditambahkan bumbu penyedap atau pemanis yang asin. Biasanya diberi bumbu terasi ada juga yang menggunakan kencur, sedangkan yang manis dibumbui dengan gula kawung atau gula merah.

Baca Juga:  Resep Lezat dan Cara Membuat Soto Bandung Kuah Bening

Rengginang dapat digoreng tanpa diberi bumbu ataupun rasa asin atau manis. Ada jenis rengginang yang diberi rasa dengan udang, terasi, atau kerang lorjuk (kerang bambu).

“Filosofi” rengginang

Dikutip dari sonora.id, Rabu 27 Juli 2022, di balik rasanya yang gurih dan renyah, ternyata ada “filosofi” di cemilan yang selalu ada setiap lebaran tiba.

Rengginang merupakan simbol “persatuan” karena makanan ini tersusun dari butiran beras ketan yang saling berhimpitan. Satu sama lainnya saling bersatu dan tidak mudah dipecah belah.

Selain itu, rengginang juga simbol “kemakmuran” karena bahan dasarnya terbuat dari nasi atau beras ketan yang menjadi makanan pokok bangsa Indonesia.***

____________________________________________

Sumber: wikipedia.org & sonora.id

Editor: Feri A

No More Posts Available.

No more pages to load.