Wa Kepoh, Pendongeng Legendaris dari Tatar Sunda

oleh -
Wa Kepoh (Foto: Tangkapan layar Youtube Silayung Channel).

BANDUNGMU.COM – Bagi masyarakat Bandung khususnya mereka generasi zaman dulu, nama Wa Kepoh bukalah nama yang asing. Saat itu, di sebuah radio terdapat sebuah acara drama atau dongeng radio yang begitu populer. Acara tersebut dibawakan oleh Akhmad Sutisna dengan nama radio Wa Kepoh.

Pendongeng cerita berbahasa Sunda legendaris legendaris tersebut memang sudah tiada. Wa Kepoh yang terkenal karena mendongengkan cerita pendekar berbudi baik dari tatar Sunda “Si Rawing” karya Yayat R, melalui stasiun radio di Bandung sekitar tahun 1980 dan 1990-an itu meninggal di usianya menjelang 63 tahun pada 2013.

Juru dongen kahot, kelahiran Bandung 15 Januari 1951, itu merupakan sosok ayah panutan. Selain tak kenal lelah dalam bekerja, juga konsisten dengan dunia profesinya yang ternyata banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Sosoknya yang banyak dinilai orang sebagai pekerja keras itu terlihat, meski dalam kondisi sakit, Wa Kepoh tetap ingin menuturkan cerita-cerita dongengnya.

Wa Kepoh yang bisa memerankan banyak suara ini membuat peran dalam sandiwara radio begitu sentral. Suara anak, ibu, bapak, kakek-kakek, atau suara karakter apa saja, bisa diperankannya. Saking tenarnya ia sempat show keliling ke beberapa daerah.

Dongeng “Si Rawing”, misalnya, yang dibawakan Wa Kepoh setidaknya menjadi kenangan tersendiri bagi urang Sunda kala itu. Bayangkan, selain Persib yang menjadi aspek pemersatu urang Sunda, dongeng ini pun seakan-akan menjadi media keakraban orang Sunda. Di mana-mana orang Sunda hampir semua mengenal dongeng tentang kisah pendekar dari Tanah Sunda ini.

Ceritanya hampir sama dengan film-film silat waktu itu yang diperankan Advent Bangun dan Barry Prima juga mirip dengan kisah dalam buku silat Kho Ping Ho atau Wiro Sableng. Memang, cerita silat waktu itu sedang tren. Kisah petualangan pendekar, kasih sayang, hingga nilai-nilai kehidupan ada terbungkus rapi dalam kisah dongeng “Si Rawing”.

Masyarakat Sunda ketika itu seolah-olah kecanduan dongeng “Si Rawing” yang dibawakan Wa Kepoh. Bahkan, menurut cerita, banyak orang yang membawa radio transistor ke ladang, ke tempat kerja, agar tidak ketinggalan mendengarkan cerita “Si Rawing”.

Tidak ingin rasanya pendengar ketinggalan satu episode pun kisah petualangan “Si Rawing” dalam menghadapi musuh-musuhnya. Walaupun waktunya tidak satu jam penuh karena kadang-kadang lama diselingi oleh iklan yang kebanyakan sudah di-blocking oleh sponsor utama. Uniknya, iklan sendiri dibawakan oleh Wa Kepoh dengan kepiawaiannya  dengan aneka jenis suara.

Suasana akan hening kalau si pencerita di radio atau pendongeng yang namanya (Uwa Kepoh, Abah Selud, Aki Balangantrang, Mang Endut, Mang Utun) membeber kesedihan dalam cerita. Misalnya tokoh dalam dongeng sedang mengalami masalah diganggu setan, kena santet, atau tersesat di hutan. Namun bisa langsung berubah heboh ketika dalam dongeng terjadi pertarungan sengit dan habis-habisan.

Efek dramatis dari dongeng radio, justru ketika terjadi duel keras. Sang tokoh dalam dongeng perang tanding dengan musuh, lengkap dengan segala jurus dan ilmu-ilmu kanuragan. Latar suara menjadi sedemikian panas lantaran diiringi dengan musik pencak silat (kendang rampag).

Pendongeng pun heboh berkicau. Belum lagi ada pekikan menjerit, meraung, atau malah sumpah serapah. Tak jarang, dalam dongeng pun terbetik ucapan ucapan lucu yang menggerojok perut (untuk tertawa terbahak).

Semua itu bisa dibawakan oleh satu orang pendongeng kahot Wa Kepoh. Sekarang memang zamannya sudah berubah, orang sudah sangat jarang mendengarkan dongeng di radio. Selain karena sudah sangat jarang stasiun radio menyiarkan dongen Sunda khususnya, juga orang-orang sudah teralihkan pusat hiburannya ke salura lain, Youtube misalnya.

Di Youtube sendiri sebetulnya banyak sekali video atau rekaman suara dongen Sunda. Meskipun ada yang tidak full, tetapi dongeng Sunda yang dibawakan Wa Kepoh bisa kita dengarkan di sana. Kalau penasaran, silakan klik salah satu tautan Youtube di atas.

Diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *