Affandi, Pelukis Produktif Indonesia yang Telah Hasilkan Ribuan Karya

oleh -
Pelukis abstrak terkenal Indonesia Affandi (Wikipedia).

BANDUNGMU.COM – Affandi, pelukis produktif Indonesia yang telah hasilkan ribuan karya. Masyarakat Indonesia khususnya yang menyenangi seni lukis atau lukisan abstrak, pasti familiar dengan pelukis Affandi.

Mengutip laman bebas Wikipedia, Affandi Koesoema lahir di Cirebon pada 18 Mei 1907.  Affandi merupakan seniman yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia.

Tokoh ini merupakan pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional berkat gaya ekspresionis dan romantismenya yang khas.

Pada 1950-an dia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Affandi tergolong sebagai pelukis yang produktif karena telah melukis lebih dari 2.000 lukisan. Jumlah yang sangat luar biasa.

Awal mula kehidupan

Affandi merupakan putra dari R Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon, Jawa Barat.

Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri.

Bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya. Seni lukis memang telah menjadikan namanya tenar dan sejajar dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Karier seni

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung.

Namun, Affandi tampaknya tidak lama menggeluti pekerjaan ini karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis yang ternyata itulah jalan yang membesarkan namanya hingga kini.

Sekitar tahun 1930-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka terdiri atas Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, Wahdi, dan Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok.

Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia.

Empat Serangkai—yang terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Haji Mas Mansyur—memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian.

Merdeka atau mati

Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini, Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S Soedjojono sebagai penanggung jawab yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan pada 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide Soekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai, tetapi rantainya sudah putus.

Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang dituliskan di poster itu (“Bung, ayo bung”) merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.

Pameran keliling India

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore.

Baca Juga:  Sudah Berusia 100 Tahun, Inilah Sejarah Singkat Peci Iming

Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling India.

Sepulang dari India, Eropa, pada 1950-an, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Kemudian terpilihlah dia, seperti Saloekoe Poerbodiningrat, dan lain-lain untuk mewakili orang-orang tak berpartai.

Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara.

Dia masuk Komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang sama dengan HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi sejak sebelum revolusi.

Topik yang diangkat Affandi adalah tentang perikebinatangan, bukan perikemanusiaan dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu. Affandi merupakan seorang pelukis rendah hati yang masih dekat dengan flora, fauna, dan lingkungan walaupun hidup di era teknologi.

Ketika Affandi mempersoalkan “Perikebinatangan” pada 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Soeharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada 1940-an, gerakan anti-imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti-kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’.

Film-film Amerika diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Kemudian Affandi pun pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu.

Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tetapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Keruan saja semua tertawa.

Tetap sederhana

Meskipun sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim.

Orang-orang lain apabila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti Arjuna, Gatutkaca, Bima, Krisna. Namun, Affandi memilih Sokrasana yang wajahnya jelek tetapi sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan.

Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia.

Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi), gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi pada 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Affandi dan melukis

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika, maupun Australia selalu memukau pencinta seni lukis dunia.

Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore pada 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya, kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Baca Juga:  Dijual Lewat NFT, Lukisan Karya Seniman Jalan Braga Laku 4,2 Juta

Dalam perjalanannya berkarya, Affandi dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak.

Sehingga sering kali lukisannya sangat sulit dipahami oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pencinta lukisan, justru hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya.

Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Namun ketika itu justru Affandi balik bertanya, “Aliran apa itu?”

Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Pelukis kerbau

Dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh.

Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng dia menjawab, “Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.”

Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. “Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,” ucapnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Museum

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu, dalam sejarahnya pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa.

Museum ini didirikan pada 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi.

Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.

Sementara galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra Gunawan, Rusli, Fadjar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun pada 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada 1999.

Lukisan itu antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 99), “Tidak Adil” (Juni 99), “Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan Kepada-Nya” (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Baca Juga:  Asal-usul Goyang Karawang, Ternyata Berawal dari Panen Padi Masyarakat

Affandi di mata dunia

Affandi salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, dan lain-lain.

Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan, antara lain Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro.

Adalah koran international ”Herald Tribune” yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia, dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini.

Di antaranya, pada 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia, pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Asasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugerahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978.

Sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta.

Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul “Kepada Pelukis Affandi”.

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pencinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat.

Di India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika, serta Australia.

Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat.

Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.

Pameran

Affandi pernah mengadakan pameran, di antaranya: Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brasil, 1966). East-West Center (Honolulu, Hawaii, 1988). Festival of Indonesia (Amerika Serikat, 1990-1992). Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993).

Singapore Art Museum (1994). Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996). Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997).

ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). Pameran keliling di berbagai kota di India.

Pameran di Eropa antara lain: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma. Pameran di benua Amerika antara lain Brasilia, Venezia, São Paulo, Amerika Serikat. Pameran di Australia. Affandi Alive di Museum Lippo Plaza Jogja

Buku mengenai Affandi

”Buku Kenang-Kenangan Tentang Affandi”, Prix International Dag Hammarskjöld, 1976. Ditulis dalam empat bahasa, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, dan Indonesia.

Nugraha Sumaatmadja, “Buku Tentang Affandi”, Penerbit Yayasan Kanisius, 1975. Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji, “Affandi 70 Tahun”, Dewan Kesenian Jakarta, 1978. Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-70.

Raka Sumichan dan Umar Kayam, “Buku Tentang Affandi”, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, 1987. Diterbitkan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi, dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Indonesia.

Affandi sang legenda itu meninggal di Yogyakarta pada 23 Mei 1990 dalam 83 tahun.***

____________

Sumber: diolah dari Wikipedia

Editor: Feri A

No More Posts Available.

No more pages to load.