Jangan Membunuh

oleh -
Ilustrasi (media.istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Kitab “Mahabharata” menuturkan: Duryodana rubuh, tapi bangkit, bertopang pada kedua lututnya.

Setelah tegak berdirinya, ia menerkam dan memukul Bima di dahinya. Bima sama sekali tidak bergerak, tetap berdiri dengan kokoh seperti gunung.

Darah mengucur dengan derasnya menuruni pelipisinya. Dengan cepat ia memungut gada besinya dan menghantamkannya dengan keras.

Duryodana gemetar dan jatuh seperti pohon sala raksasa dibantun oleh angin keras. Orang Pandawa bertepuk dan bersorak gembira.

Pemandangan serupa dapat kita saksikan di layar televisi ketika dua petinju kelas berat dan saling menghantarm ganas untuk merobohkan lawan mainnya. Dan ketika seorang petinju “roboh seperti pohon salam raksasa”, terdengar sorak-sorai kegembiraan.

Siapakah engkau itu manusia?

Manusia itu, sejak dahulu mulai sampai sekarang, dapat dibuat suka gembira menyaksikan tindak kekerasan seorang manusia terhadap manusia lainnya. Entah itu dalak kenyataan hidup, entah itu cuma dalam permainan.

Setiap hari di televisi, di halaman surat kabar, dan majalah, terhidang berita nyata tindak kekerasan dan pembunuhan serta berbagai kisah fiktif yang serupa.

Baca Juga:  10 Alasan Bahasa Indonesia Layak Menjadi Bahasa Kedua di ASEAN, Salah Satunya karena Dipelajari di 47 Negara!

Antara fakta dan fiksi sudah sulit dibedakan. Yang kita sangka cuma cerita dalam novel picisan ternyata cerita nyata.

Benarkah manusia dapat berbuat sesadis itu? Begitu tanda Anda sendiri menyantap sarapan pagi.

Begitulah manusia ini adanya. Meskipun semua kitab suci mengajarkan untuk tidak saling menyakiti sesama dan tidak membunuh sesama, korban pembunuhan bertebaran di sekeliling kita.

Mengapa manusia selalu saling menyakiti, saling berbuat kekerasan, saling bunuh? Bukankah kita diajari sejak kecil mula untuk mencintai sesama? Bukankah hukum kasih sayang dan cinta terselip dalam ajaran-ajaran agung umat manusia.

Berawal dari benci

Pembunuhan berawal dari sikap membenci. Dan membenci itu salah satu wilayah perasaan manusia, seperti halnya dengan cinta kasih.

Pembunuhan, seperti halnya percintaan, berawal dan berada di wilayah emosi manusia.

Prof Dr Louis Leahy SJ menjelaskan emosi manusia ini. Tulisanya: “Sejauh orang berhasil menguasai diri, emosi dapat menjadi sumber kekuatan, ketegasan, kebenaran, inisiatif, kreativitas, dan sekurang-kurangnya sumber kefasihan.

Namun, jika seseorang tidak berhasil menguasai emosinya, emosi itu akan menyelesaikannya, menjadikannya gila, melumpuhkannya, mendorongnya kepada tingkah laku dan perkataan yang tak karuan, tak masuk akal, dan sering pantas ditertawakan.

Baca Juga:  Jangan Terulang Lagi! Mengenang ”Bandung Lautan Sampah” dari Tragedi Leuwigajah

Demikian halnya dengan orang yang dikatakan menjadi mata gelap atau membabi-buta dan akan memporakporandakan segala-segalanya.”

Sumber-sumber atau aspek afektif manusia ini adalah nafsunya atau hasrat jiwanya.

Ada dua kategori besar nafsu manusia, yakni yang mendorong orang untuk mengikatkan diri pada apa yang baik baginya (nafus hasrat) dan yang mempersiapkan orang untuk bertempur dengan apa yang melawan kehendaknya (nafsu amarah).

Tindak kekerasan yang berkulminasi pada pembunuhan tentulah termasuk nafsu amarah tadi.

Nafsu ini mengambil jarak, memutuskan ikatan dengan manusia lain karena si pemilik nafsu tidak menyukainya dan membencinya.

Masalahnya adalah pengendalian perasaan seperti yang dituturkan oleh Louis Leahy.

Baik nafsu positif maupun nafsu negatif harus dapat dikendalikan agar tidak menimbulkan perbuatan yang “pantas ditertawakan” atau yang “memporakporandakan segala-galanya”.

Pengendalian emosi sampai mencapai tingkat yang pantas dan proporsional, agar manusia tidak ditelan oleh mata gelap emosinya, perlu pelatihan dan pendidikan. Manusia yang terdidik adalah manusia yang terkendali emosinya.

Baca Juga:  Asal-Usul Nama Dago Yang Tersohor di Bandung

Emosi cinta

Sebenarnya hanya ada satu jenis emosi yang amat mendasar, yakni emosi cinta. Emosi kebencian timbul karena emosi cinta terhalangi atau tertolak oleh objek cintanya.

Emosi cinta itu menggerakkan orang untuk menyatukan diri, peduli, penuh perhatian, memberi, dan mengembangkan pribadi orang lain.

Sebaliknya, emosi benci akan memisahkan, tak mau tahu, menolak, dan membinasakan pribadi lain.

Itulah yang terjadi pada Bima ketika ia merobohkan Duryodana dengan gadanya, meskipun Duryodana itu masih terhitung saudaranya sendiri.

Memang batas antara cinta dan benci itu kadang-kadang begitu tipis sehingga seorang suami tega membunuh istrinya sendiri, seorang kekasih tega menikam pacaranya, seorang anak tega membunuh ayahnya.

Ini semua karena cinta yang begitu bergelora dan buta tanpa mengendalikan emosi, tiba-tiba ditolak, hanya dengan satu kata atau hanya dengan satu perbuatan kecil, yang maknanya “tidak”.***

______

Sumber: “Orang Baik Sulit Dicari”

Editor: Feri A

No More Posts Available.

No more pages to load.