UMBandung
Sosok

Menulis di Masa Remaja, Mahasiswa UM Bandung Rafi Rabbani Rais Berhasil Menerbitkan Buku-buku Inspiratif

×

Menulis di Masa Remaja, Mahasiswa UM Bandung Rafi Rabbani Rais Berhasil Menerbitkan Buku-buku Inspiratif

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi UM Bandung.***

BANDUNGMU.COM, Bandung – Prestasi atau hal yang membanggakan dari mahasiswa UM Bandung dari awal berdiri hingga saat ini terus datang. Tidak hanya dari hal yang berkaitan dengan akademik dan literasi, tetapi juga non akademik, baik level nasional maupun internasional.

Begitu pula yang ditorehkan Rafi Rabbani Rais yang berhasil menerbitkan tiga buku (buku ketiga masih tahap akhir proses terbit) pada usia delapan belas tahun. Ia kini berstatus mahasiswa prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Pria yang akrab disapa Rafi ini merupkan alumnus MA Darul Arqam Garut, Jawa Barat, pada lembaga pendidikan yang sama dengan dai kondang Ustad Adi Hidayat (UAH).

Awalnya, Rafi hanya iseng dan mencoba menulis saat dirinya kelas tiga SMP. Namun, ketika itu dirinya merasa masih ada yang kurang sehingga ia memperbanyak membaca buku dan referensi lain.

Rafi mengaku dirinya sebagai pribadi yang pemikir dan berkeinginan bahwa isi pemikiran yang ada di otaknya bisa mewujud dalam bentuk buku sehingga bisa dinikmati banyak orang.

Baca Juga:  As’ad Humam, Ulama Muhammadiyah Penemu Metode Iqro’

Dua hal itulah yang menjadi dorongan dan motivasi utama Rafi mempelajari dan mendalami dunia literasi tulis-menulis.

“Di pikiran saya itu kadang-kadang suka banyak hal yang tiba-tiba muncul. Sering muncul ide-ide liar. Jadi, daripada hanya datang terus hilang, lebih baik dituangkan menjadi sebuah tulisan,” tambah Rafi.

Jalan berliku

Dalam proses menulis dan menerbitkan karya tulis, Rafi pernah mengalami gangguan, salah satunya sempat kehilangan minat untuk melanjutkan menulis. Hal itu terjadi saat dirinya memasuki kelas satu SMA.

Namun, kendala tersebut tidak berlangsung lama. Motivasi menulis kembali muncul sehingga setahun kemudian Rafi berhasil menyelesaikan satu buku dalam waktu tiga bulan.

“Proses menerbitkan buku pertama itu sebenarnya cukup panjang karena sempat berhenti dulu di kelas satu SMA yang sudah menulis sedikit, tetapi berhenti karena overthinking. Namun, waktu kelas dua SMA mulai menulis lagi dan berhasil sampai terbit,” ungkap Rafi.

Baca Juga:  KH Omo Suyatna: Tokoh Muhammadiyah Pionir Reformis Keagamaan di Jawa Barat

Buku pertama karya Rafi berjudul ”Dopamine” dan diterbitkan Guepedia pada 2022. Buku ini menceritakan perjalanan manusia dalam mencari makna hidup di tengah-tengah kekecewaan dan keputusasaan hingga menggali alasan mengapa manusia terus mencari kebahagiaan dalam hidupnya.

Pengalaman nyata

Kemudian, buku kedua berjudul “Untaian Kisah dari Pelataran Kasih” terbit pada 2022 juga di penerbit Dianeka Publishing. Buku ini terbit beberapa bulan setelah buku pertama terbit.

Buku ini termasuk buku best seller dan paling banyak dibaca selama pengalamannya menjadi penulis. Apresiasi pembaca sangat baik terhadap buku tersebut.

“Dulu waktu kelas dua SMA, saya pernah dekat dengan perempuan. Jadi, isi bukunya berdasarkan kisah nyata karena menceritakan perjalanan kami,” kata Rafi.

Rafi menuturkan, buku yang kedua ini memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, terlebih dalam masalah percintaan.

Berkolaborasi dengan teman

Baca Juga:  Yuk Kenali Cahya Suminar Nursila: Penulis Baru dengan Semangat Luhur

Usai menerbit dua buku, Rafi melakukan hal yang berbeda pada buku yang ketiga. Ia berkolaborasi dengan temannya yang bernama Revan Daffa untuk menulis buku “Hilang Arah di Penghujung Jalan”.

Buku ini memberikan pandangan karakter utama yang melakukan perjalanan menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.

“Hilang Arah di Penghujung Jalan” memberikan pesan bahwa penerimaan takdir dan tanggung jawab merupakan bagian dari pertumbuhan dan pembelajaran.

Dalam buku ketiganya ini, Rafi ingin memberikan pelajaran berharga bagi pembacanya tentang kehidupan.

“Jangan menilai sesuatu berdasarkan sudut pandang kita sebagai manusia. Bisa jadi apa yang kita benci menjadi batu loncatan kita di masa depan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan,” jelas Rafi.

Sebagai penutup, Rafi menyebutkan kalimat motivasi yang menjadi pegangannya dalam menjalani kehidupan selama ini.

“Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa menghancurkan masa sekarang dengan terlalu mengkhawatirkan masa depan,” tandas Rafi.***(Winaa/Bewara)

PMB UM Bandung
Opini

Oleh: Sudarman Supriyadi, peminat literasi dan sosial-keagamaan BANDUNGMU.COM…