Hadits, Teks, Konteks dan Kredibilitas Penafsiran Ulama

oleh -

Mamat Muhammad Bajri, M.Ag.
Ketua Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Muhajirin Purwakarta

BANDUNGMU.COM – Ada orang memahami dalil, tetapi tidak mengetahui konteks dan Asbabul Nujul turunnya ayat serta kemana arah ayat itu ditujukkan, maka disinilah perlu proses penafsiran para ahli tafsir yang kredibil.

Ada orang memahami hadist dan berpedoman pada satu hadist, sehingga tidak mengetahui dan tidak memahami ada hadist yang lain, karena bisa jadi hadist itu mentahsis hadist yang lain. Ada orang yang hanya mengandalkan fiqih tetapi tidak mengetahui kajian Ushul Fiqihnya serta tidak mempelajari ilmu alat lainnya spt ilmu nahwu dan sharaf.

Ada orang yang mengunakan satu referensi dalam memecahkan masalah, padahal ada ribuan referensi yang bisa menyelesiakan problematika masalah. Ada orang yang melabeli bid’ah dengan satu hadist tetapi tidak mempelajari hadist yang lain.

Ada orang yang hanya mengandalkan teks, tetapi tidak memahami konteksnya. Ada orang yang memahami Al-Quran dengan mengandalkan terjemahan semata, padahal memahami Al-Quran perlu mengunakan pendekatan ulumul Qur’an dan penafsir Al-Qur’an. Ada orang yang hanya mengandalkan satu penafsir tetapi tidak mempelajari penafsir yang lain dengan masalah yang sama.

Apakah itu salah? Jawabanya tidak salah, Yang salah itu memaksakan kehendaknya bahwa pendapatnya paling benar dan pendapat oranglain salah.

Ijtihad yang berkembang

Tradisi dan Khazanah Intelektual akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Proses Ijtihad akan terus ada sampai hari kiamat. Kadang kita hanya mempelajari beberapa hadist dan tafsir padahal ada ribuaan hadist dan tafsir yang belum kita ketahui dan pahami, maka disinilah perlu belajar kepada ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah yang memiliki integritas yang tidak diragukan lagi keilmuaannya.

Mengaji kepada satu ulama, ustadz, kyai dan dijadikan rujukan tidak salah, tetapi ketika ada orang lain yang memiliki pandangan lain bersumber dari ulama yang lain, alangkah baik kita menghargi dan mengapresiasi. Terobosan intelektual bergerak cepat dalam menyelesaikan problematika kehidupan.

Kenapa para penafsir dan ulama berbeda pandangan dalam menafsirkan Al-Quran dan memahami hadist? Jawabannya diantara para penafsir dan muhadisin memiliki rujukan yang berbeda dan metode yang berbeda serta belajar kepada Guru yang berbeda dan itu menurut saya tidak salah tetapi justru disitulah kehebatan khazanah intelektual Islam berkembang pesat.

Islam justru berkembang dengan perbedaan dan itu semua menunjukkan kearifan para ulama dalam menyikapi perbedaan dan saling menghornati satu sama lain dan mengajinya sudah tuntas.

Lantas kita yang belum mengetahui apa-apa dan hanya sedikit sekali memahami ilmu kadang berani menyalahkan pendapat oranglain, padahal orang itu pun memiliki rujukan dari sumber yang kuat. Disinilah perlunya penguatan dunia literatur supaya kita bisa menghargai pandangan serta pendapat oranglain.

Tradisi salafi dan Ahlusunnah memiliki rujukan yang sama-sama kuat yang perlu diapresiasi dalam memperkuat khazanah intelektual Islam. Tradisi menyalahkan oranglain yang berbeda pandangan sudah harus diakhiri. Tidak usah melihat perbedaan, karena perbedaan dipastikan akan terus ada. Yang perlu dijaga dan dilestarikan adalah tradisi menjaga dan menghargai perbedaan dan terus melakukan kebaikan antar sesama.

Salam. Muhammad Awod Faraz Bajri( Purwakarta, 20 Februari 2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *