Peninggalan Manuskrip, Tadisi Lisan dan Adat Istiadat di Kota Bandung

oleh -

BANDUNGMU.COM – Kota Bandung ialah salah satu wilayah administratif di Provinsi Jawa Barat, dengan luas wilayah 16.729,65. Kontur wilayahnya, dikelilingi pegunungan menjadikan Bandung memiliki karakteristik alam dengan kelembaban dan kesejukan udaranya.

Hal itulah yang menjadikan kota Bandung memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan untuk berkunjung ke kota kembang ini. Bahkan, wilayah Bandung sebelah utara pun menjadi tempat favorit yang dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Tak hanya alamnya, yang bikin betah pengunjung, dari aspek kebudayaannya juga. Kota Bandung juga ditinggali etnis Sunda; sebagai etnis mayoritas di kota ini, menjadikan kebudayaan Sunda sebagai corak kebudayaan utama yang hidup dan berkembang di kota Bandung.

Bandung juga ditinggali etnis lain. Kedatangan etnis lain di Bandung pada dasarnya telah dimulai sejak abad ke-19, manakala kapitalisasi perkebunan mulai berkembang di Priangan. Etnis-etnis pertama yang tinggal di Bandung, antara lain adalah Bugis dan Jawa.

Dalam perkembangannya, sejak Bandung resmi menyandang status sebagai sebuah gemeente pada dasawarsa pertama abad XX, semakin banyak etnis lain, seperti Minang, Minahasa, Ambon, dan Batak yang menetap di kota ini.

Manuskrip

Kota Bandung punya kekayaan manuskrip (naskah kesejarahan) dalam jumlah yang relatif banyak. Naskah tersebut tidak hanya bertuliskan tangan, tapi juga berupa ketikan Mesin Tik.

Beberapa manuskrip tersebut diantaranya, Babad Cirebon, Babad Nyimas Gandasari, Carita ratu Pakuan Pajajaran, Wawacan Suryaningrat, Carita Purwaka Carbon Nagari, Primbon, Babad Dermayu, Serat Sariwahhana, Bagawan Jamadageni, Niti Sastra Parwa gambaran, Mushaf Al-Quran, Serat Wadulaji, Wawacan Syh Abdul Kadir Jailani, dan lain sebagainya.

Tradisi Lisan

Tradisi lisan dikalangan masyarakat Kota Bandung mayoritas berkaitan dengan cerita tentang nama suatu daerah.

Berikut adalah tradisi lisan yang terkait dengan penamaan daerah-daerah di Kota Bandung: cerita asal-usul daerah dungus cariang, Ciroyom, Maleber, kebon jeruk (andir), asal-usul antapani, asal-usul astanaanyar, asal-usul pagarsih, asal-usul batununggal, asal- usul curug écè (bandung kidul), legenda kampung burahol (antapani), legenda arcamanik (mandalajati), legenda romantik nona irene dan abiraga (mandalajati), legenda ibu rengga dan mama akung, asal usul batu kuda (cibiru), asal-usul jin bulu carang (arcamanik), asal-usul kanten (rancasari), asal-usul gedebage, asal usul Ujungberung (Ujungberung), asal-usul kampung maruyung (Ujungberung), legenda haji mu’min (buah batu), asal-usul buah batu dan bandung kulon, legenda jalan mbah malim (kiara condong), mitos tidak boleh memukul goong (batununggal), mitos situ otong (batununggal), mitos kiciwis (babakan tarogong), mitos makam haji mukmin (sekejati – buahbatu).

Adat Istiadat

Masyarakat Kota Bandung dengan mayoritas entitas sunda memiliki adat istiadat yang luhur dan harus dilestarikan. Adat istiadat yang masih dilaksanakan di Kota Bandung diantaranya adalah Jamasan Pusaka/Raksikan Braja, Marak Lauk, Ngariksa Cai, Adat Babarit, hajat Sasih, Ririungan Sarumpi, rereongan Sarumpi, Bebersih Kampung, dan lain sebagainya.

Nah, segitu dulu, ya…ada banyak kekayaan budaya di Kota Bandung yang harus kita lestarikan sebagai sebentuk dari local wisdom (kearifan lokal) dalam diri kita.

One thought on “Peninggalan Manuskrip, Tadisi Lisan dan Adat Istiadat di Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *