UMBandung
Opini

Memahami Perkara Sunah Tanpa Mengalahkan Ibadah Wajib

×

Memahami Perkara Sunah Tanpa Mengalahkan Ibadah Wajib

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)

Oleh: Sudarman Supriyadi, Peminat Literasi, Politik, dan Sosial-Keagamaan

BANDUNGMU.COM — Dalam bulan suci Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia memperdalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai amalan, termasuk pelaksanaan tarawih.

Tarawih merupakan ibadah sunnah yang dilakukan pada malam hari selama bulan Ramadhan. Ibadah ini telah dilaksanakan dengan penuh khidmat oleh umat Islam.

Namun, dalam semangat menjalankan tarawih, penting untuk memahami bahwa ibadah ini adalah sunah, yang tidak boleh mengalahkan ibadah wajib yang lainnya.

Tarawih adalah salah satu amalan yang sangat baik yang dianjurkan Rasulullah SAW kepada umatnya.

Dalam menjalankan ibadah ini, umat Islam berkumpul di masjid–atau melaksanakannya sendiri di rumah–untuk melaksanakan salat berjamaah dengan membaca beberapa juz Al-Quran, misalnya, setiap malamnya.

Ibadah ini telah menjadi momen berharga untuk meningkatkan keimanan, memperdalam pemahaman terhadap Al-Quran, dan memperkuat hubungan sosial antarumat Islam.

Baca Juga:  Jatuh Pada Selasa 27 Juni 2023, Ini Keutamaan Puasa Arafah 9 Zulhijah 1444

Namun, dalam pelaksanaannya, terkadang ada kesalahpahaman di antara umat Islam bahwa tarawih menjadi lebih penting daripada ibadah wajib lainnya, seperti salat lima waktu.

Padahal, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, ibadah wajib tetap harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan seorang muslim.

Penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa meskipun tarawih adalah ibadah yang dianjurkan, tidak boleh mengesampingkan kewajiban melakukan shalat lima waktu.

Salat lima waktu merupakan tiang utama dalam Islam dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim tanpa terkecuali.

Ketika kita memprioritaskan tarawih di atas salat lima waktu, kita bisa saja tersesat dari prinsip-prinsip dasar agama yang telah ditetapkan.

Menjalankan tarawih dengan penuh keikhlasan dan khusyuk adalah tindakan yang mulia dan patut diapresiasi. Namun, hal itu tidak boleh menyebabkan kita lupa akan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah sunah dan ibadah wajib.

Baca Juga:  Pandangan Muhammadiyah Soal Hukum Mendirikan Bangunan Permanen di Atas Kuburan

Sebagai umat Islam, kita perlu memperhatikan seluruh aspek ibadah dan tidak boleh mengesampingkan yang satu demi yang lainnya.

Misalnya, semangat melaksanakan tarawih di masjid hingga masjid berjubel sampai teras. Namun, saat salat Subuh malah hanya dua baris. Itu pun didominasi para orang tua.

Sebagian besar orang-orang yang salat tarawih tadi malam pada ke mana? Padahal, salat Subuh itu hukumnya wajib. Lebih utama dilaksanakan berjamaah di masjid karena ganjarannya dapat 25 poin.

Kenapa tarawih yang sunah dilaksanakan berjamaah sampai masjid berjubel, tetapi salat Subuh yang wajib malah banyak dilaksanakan di rumah masing-masing?

Baca Juga:  Dadang Kahmad Ajak Warga Muhammadiyah Sambut Ramadhan dan Khusyuk Beribadah

“Barang siapa yang melakukan salat Isya berjamaah, dia sama seperti manusia yang melakukan salat setengah malam. Barang siapa yang melakukan salat Subuh berjamaah, dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu.” (HR Muslim).

Inilah hal-hal yang sejatinya kita luruskan. Tujuannya agar jangan ada skala prioritas ibadah yang terbalik. Ibadah wajib tetap hukumnya wajib. Tidak akan bisa dikalahkan oleh ibadah sunah.

Mari kita mendekati ibadah tarawih dengan penuh keikhlasan dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, jangan pernah lupakan bahwa ibadah wajib tetap harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita sebagai muslim.

Dengan menjaga keseimbangan antara ibadah sunah dan ibadah wajib, kita dapat memperoleh keberkahan dan kedekatan dengan Allah SWT yang sejati. Wallahu a’lam.***

PMB UM Bandung